Ibu dan Klakson Motor (1)

Man tengah melangkah di jalan aspal sore itu, sementara semua penduduk telah menutup pintu dan jendela rumah mereka. Bibirnya mengering oleh uap kafein dari dalam perutnya juga mengakibatkan kepalanya menjadi panas. Menyesal? Man menggeleng, menampik pikirannya sendiri. Ia bernyanyi, “Only woman can stop my eyes“, dan nyanyian itu menjelma menjadi rasa kantuk ketika ia membuka pintu rumahnya yang telektak di ujung kampung.

Bagaimana menjadi pria dewasa? Kabut tipis di matanya membayangkan seorang pria tengah membonceng wanita cantik dengan sepeda motor dan wanita itu memeluknya erat-erat. Ia seakan merangkak ke kamar mandi, membuka pintunya, membuka celananya dan melihat bayangan di dinding. Melihat pulau di tengah samudera dan ombak yang membentur karang dan butir pasir menyatu dengan percikan air laut, membentuk kristal berwarna putih. Ia meludah ke dalam toilet. Dari mulutnya keluar bunyi mendengung.

Man adalah seorang pria dua puluh tahun. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja menjadi buruh angkut sayuran di pasar pagi. Ia tidak bisa melarang ibunya untuk bekerja karena ia sendiri belum mampu mencari uang. Uang! Mata Man melotot ke langit-langit kamar, sementara bunyi mesin sebuah truk terdengar berhenti di depan rumah. Kepalanya masih terasa pusing, ia mencoba bangkit dan menyadari celananya belum dikancingkan. Dari balik korden ia bisa melihat ibunya bersama beberapa perempuan di atas truk. Sopir truk itu membuka ombeng belakang dan menahan pegangan ibu untuk menuruni truk itu. Ibunya yang kelihatan kurus dengan kemeja kotor dan celana yang memiliki kantong banyak, melambaikan tangan ke arah teman-temannya di atas truk, sementara truk itu meninggalkannya di tengah gumpalan asap berwarna hitam.

Semuanya terjadi di bawah bayangan lampu jalan dan sedikit cahaya dari lampau di beranda. Man masih mengantuk dan ia merasa kasihan pada wanita itu. Wanita di era tahun enam puluhan dan telah menikah itu menatap ke arahnya. Ia bisa melihat jelas raut dan lekung-lekung di wajah ibunya. Ia telah berjanji untuk mengabdi dan menggantikannya untuk mencari nafkah. Man berkata, “Aku hanya butuh satu poin untuk prestasi, kerja!”. Ibunya terdiam dan melosoh di lantai, sementara Man berdiri di depannya. Ia sedih untuk membayangkan Man akan menjadi dirinya. Ia tidak sanggup melihat anaknya bangun di pagi buta, menunggu truk sayuran, menggigil kedinginan. Ia sedih namun ia tidak bisa mencegahnya.

Dan malam itu akan menjadi hari terakhir untuk bekerja. Apa itu mungkin? Ia mengeluarkan bungkusan plastik dari dalam tas sandagnya dan menyodorkan kepada Man. Isi kantong itu adalah aneka makanan; dua biji roti bakar, kerak telor, goreng pisang dan sate ayam. Mereka mulai memakannya dan ketika itu ibunya berkata, “Ada sebidang tanah milik almarhum ayahmu di Bukit Sanding“. Ia sedang menyaksikan anaknya dengan ragu. Seperti dugaannya, Man telah kehilangan rasa kantuknya dan kelihatan gembira. “Aku tahu daerah Bukit Sanding itu Mak“, katanya lirih. Sebidang tanah itu akan menjadi modal usahanya dan semuanya di bawah persetujuan ibunya. Malam itu terasa panjang oleh Man, sementara ibunya melihat wajah suaminya seakan hidup kembali.

Wanita itu menghangatkan badannya di bawah selimut. Pikirannya melayang seiring perjalanan malam. Ia seakan berada di samping pria yang telah meninggalkannya. Ketika genggaman tangan menahan jemarinya kuat-kuat. Ia tersapu oleh mimpi saat menuruni lereng pegunungan menuju dua buah bukit dipenuhi hijaunya jagung. Suaminya adalah seorang guru di sekolah dasar yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri akibat telrilit hutang. Semua orang berkata begitu, mereka menganggap kematian seorang guru dengan cara menganiaya diri sendiri adalah perbuatan konyol. Mereka tidak tahu! Ia adalah istrinya dan ia lebih tahu apa yang telah menjadi fragmen sesungguhnya. Suaminya meninggal dunia karena tidak tahan cacian masa lalunya, ayah dan ibunya, menjadi penghuni goa. Dan wajah-wajah itu meringis diseret sepanjang jalan sebagai pengkhianat bangsa!

Dan ia merasakan ketika benih pertama itu ditanam di rahimnya. Man tidak pernah mengenal ayahnya, sebagaimana layaknya seorang anak yang juga tidak menerima pensiunan ayahnya selain sebidang tanah dan rumah yang mereka huni itu. Dalam mimpinya, ia melihat suaminya mencabuti tunggul jagung, menebarkan debu di tanah kering dengan ujung sepatu bot…

bersambung…

One Response to “Ibu dan Klakson Motor (1)”

  1. Salam kenal..ternyata ini yang di promosikan oleh uda vizon…hebat…

    Salam kenal juga Ajo Imoe
    Terima kasih… ah, biasa aja

Leave a Reply