Titah Masalalu
Seorang pemuda membungkuk di sudut
mata mahkota menempel bangga
dihempas kata. Ini titah!
kubunuh panah menembus punggung
Ini jagad dinding kota batu
mereka kembali bersama perigi
membawa seekor kumbang dan warung remang
-laut meliuk angin tropis di Utara pulau
mencoreng membenam bersama
pusung di dada. Titah belum didengar
ia berlari dengan tangan buntung
tercabik!
lempengan menumbuk dalam pundi
emas murni 24 karat…
lihat mata rajaku memijak pasi
rebah membawa sulaman puteri
bukankah ini sebuah mimpi?
di mana
aku terpaksa untuk mencari….
payakumbuh, 21/03/2009
June 15, 2009 at 10:44 am
Walopun kata2nya gak nyambung, tapi begitu mengalir ketika dibaca…
June 15, 2009 at 10:26 pm
aha, ini kenyataan da. kenyataan yang harus dihadapi dalam kerasnya hidup. kerasnya mungkin melebihi batu.
salam kenal dari rang awak!
June 16, 2009 at 4:35 pm
Hey,
Saya datang dari Uda Vizon
Wah … puisi
Selalu terkagum sama puisi, dan selalu menemui kesulitan untuk berkomentar.
Puisi menurutku bukan untuk dikomentari, tapi untuk dimaknai.
Walau tak begitu paham, aku mencoba meraba