Titah Masalalu

Seorang pemuda membungkuk di sudut
mata mahkota menempel bangga
dihempas kata. Ini titah!
kubunuh panah menembus punggung

Ini jagad dinding kota batu
mereka kembali bersama perigi
membawa seekor kumbang dan warung remang
-laut meliuk angin tropis di Utara pulau
mencoreng membenam bersama
pusung di dada. Titah belum didengar
ia berlari dengan tangan buntung
tercabik!

lempengan menumbuk dalam pundi
emas murni 24 karat…
lihat mata rajaku memijak pasi
rebah membawa sulaman puteri

bukankah ini sebuah mimpi?
di mana
aku terpaksa untuk mencari….

payakumbuh, 21/03/2009

3 Responses to “Titah Masalalu”

  1. Walopun kata2nya gak nyambung, tapi begitu mengalir ketika dibaca…

    Terima kasih Wempi,
    semoga saya dapat semakin berkembang melalui masukan seperti ini
    salam kenal

  2. aha, ini kenyataan da. kenyataan yang harus dihadapi dalam kerasnya hidup. kerasnya mungkin melebihi batu.

    salam kenal dari rang awak!

    Benar sekali Da, terima kasih
    Salam kenal juga untuk rang awak :)

  3. Hey,
    Saya datang dari Uda Vizon :D

    Wah … puisi
    Selalu terkagum sama puisi, dan selalu menemui kesulitan untuk berkomentar.
    Puisi menurutku bukan untuk dikomentari, tapi untuk dimaknai.
    Walau tak begitu paham, aku mencoba meraba :)

Leave a Reply