Ibu dan Klakson Motor (2)
Cahaya mentari menusuk ke permukaan kulit. Jalan-jalan di kampung itu meliuk-liuk dipenuhi kendaraan yang meluncur menuju kota. Man menghapus keringat di dahinya. Ia telah meninggalkan ibunya yang masih terlelap di kamar. Sekarang ia berada di depan toko kelontong yang ramai oleh pengunjung. Pengunjung-pengunjung tidak memperhatikan dirinya, mereka keluar masuk dengan menenteng bungkusan besar dan di antara tubuh-tubuh itu Man bisa melihat pria gemuk berkacamata itu.
Orang memanggilnya Jakung, sebuah nama dengan arti yang tidak memaksakan sebuah arti. Ia tenang memperhatikan karyawan-karyawannya meladeni pelanggan dan tidak menyadari kehadiran Man sebelum ia berniat bermain mengutak-atik mesin hitung. “Eh, kamu Man, apa kabar?”
Man begitu yakin dengan rencananya dan Jakung akan menerima dengan gembira. “Aku menjual tanah itu, bagaimana dengan Toke, mungkin berminat?”. Jakung seakan mempunyai seorang saudagar baru yang akan menambah keuntungan kepadanya. Ia mengangguk setuju. Ia tidak perlu menghitung dengan mesin hitung lagi setelah harga tanah di hampir semua daerah telah memiliki harga pas per meternya, 20 ribu rupiah! Ia menoleh kepada Man yang seperti kehabisan oksigen, pucat dan berusaha mencari permukaan untuk bernafas. Jakung tersenyum dengan mengangguk-angguk sementara Man memunggungi ke arah jalan di depan tokonya.
Man melihat kemuraman dan kota-kota terus merangkak membangun diri sendiri. Lorong di depan toko kelontong itu penuh sesak oleh pedagang dan pembeli. Mereka berhimpitan dan berdesakan, sesekali saling mendorong dan memberi jalan kepada kuli angkut atau kepada dinas keamanan pasar yang tiba-tiba melintas. Suara hiruk pikuk meraung dari mulut pedagang itu.
Mereka meneriakkan penawaran dengan harga dua kali lipat. Dan pasar adalah dunia di mana si pedagang dan pembeli saling mematok harga yang berlawanan dan pembeli yang pintar juga akan menawar setengah dari harga yang ditawarkan. Hal itu terus terjadi di bawah tatapan Man yang masih kebingungan untuk menjual tanah, membekukan hasil penjualan itu untuk menjadi badan usaha? Ia sadar untuk tidak bisa menunggu sampai kapan. Ia juga tidak bisa membiarkan penolakan Jakung jika ia memohon tambah dan pria itu tengah menikmati kemenangannya. Ia baru saja mendengar kata menyerah dari Man dan ia telah memberikan sebuah sepeda motor kepadanya setelah ia mendengar harga motor baru tidak setara dengan harga tanah itu. Man akan melihat air mata mengalir dari kulit mata ibunya!
Sementara Jakung tengah berdiri di kamarnya di lantai tiga tokonya. Pipinya yang berlemak tampak bergerak-gerak dan menebar senyum masa depan yang gemilang. Ia melihat bukit itu dari balik kabut, jauh di utara melewati atap-atap bangunan. Orang-orang di jalanan saling menindih, menatap, menghardik dan berusaha mengantongi uang sebanyak-banyaknya. Dan ia telah merasa membagi kebahagiaannya kepada Man sebelum pria pengangguran itu menceritakan niatnya untuk menjual tanahnya. Jakung kembali tersenyum puas sambil memperhatikan map di tangannya. Sejenak ia masih memperhatikan map berwarna hijau itu dan memasukkannya ke dalam laci lemari kayu berukir. Ia meletakkan map itu di atas tumpukan map-map lainnya yang sama-sama bertuliskan SERTIFIKAT TANAH.
bersambung…
June 16, 2009 at 12:50 pm
apakah tumpukan itu akan membawa petaka ? kita tunggu ya mas…mau dibawa kemana niy kira-kira…
June 17, 2009 at 11:45 am
setia menunggu lanjutannya