Ibu dan Klakson Motor (3)
Terakhir kali Man dan ibunya melihat sebidang tanah itu dengan motor. Wanita tua itu hanya bisa beridiri mematung dengan besi pancang pembatas. Jakung, istri dan ketiga anaknya berjalan-jalan di atas sisa-sisa tanaman jagung yang daunnya telah mulai mengering. Ketiga anak Jakung yang masih kecil dan gemuk-gemuk itu melonjak-lonjak senang. Mereka memainkan tanah berwarna hitam itu, membuatnya menjadi bulatan dan mulai melempar ke berbagai arah. Terdengar teriakan Jakung yang melarang anak-anaknya bermain lemparan bola tanah itu. Jakung telah merencanakan banyak gagasan untuk masa depan sebidang tanah yang baru saja menjadi miliknya.
Man dan ibunya telah mendengar dan mengetahui apa yang akan terjadi. Mereka telah menyerahkan satu-satunya warisan yang mereka miliki. Sepanjang jalan, mimpinya kembali bermain dalam pikiran, dan ibu itu menangis. Man tidak merasakan air mata wanita itu membasahi pundaknya. Pikirannya adalah jalan yang penuh debu, parit dengan airnya yang jernih dan rombongan bangau menggelepar dari dalam sawah ketika seorang petani mulai mengayunkan cangkulnya ke dalam lumpur. Seorang bocah berdiri mematung ke arahnya, memperhatikan Man dan ibunya di atas motor kemudian melambaikan tangannya yang mungil ke arah mereka. Man membalas dengan membunyikan klakson.
Man menyadari bahwa hari itu ia begitu gembira!
Sepi, dingin! Itulah yang dirasakan wanita malang itu. Kau juga akan merasakan hati seorang wanita ketika ia sedang berada di usia senja, ketika pikirannya senantiasa membayang pada almarhum suaminya.
Sejak ia kembali dari tanah Sanding bersama Man, kesehatannya semakin menurun. Butir-butir embun dan udara malam telah membekukan paru-parunya dan membuatnya nyaris tidak bisa bernafas. Sebetulnya Man harus mengetahui apa yang sedang terjadi dengan ibunya. Tapi entah apa yang dipikirkannya pagi itu, keluar rumah tanpa mengatakan satu patah kata kepada ibunya. Wanita itu hanya bisa mendengar suara pintu ditutup, suara gesekan sepatu di atas semen, dan kemudian deru mesin sepeda motor perlahan-lahan menjauh. Ia menekan dadanya.
Ia keluar dari kamarnya yang dingin menuju ke sumur di belakang rumah, mengambil seember air, kemudian memindahkannya ke dalam baskom di dapur. Keringat dingin keluar dari dahinya, membayang wajah pusat pasi yang semuanya bisa tampak jelas dari jendela dapur. Wanita itu terbatuk-batuk, sementara tangannya berusaha mematik api untuk kemudian menyalakannya di kompor. Ia terasa sedang berada di lading jagung bersama pria yang dicintainya. Pria yang selalu berhati-hati dalam berbicara dan bertindak, membiarkan dirinya memungut buah jagung berwarna kuning. Asap mengepul dari dalam tungku di gubuk kecil. Ia tersungkur dan terbatuk-batuk. Dadanya terasa panas. “Kau telah memecahkan kesunyian itu, Dik”. Suaminya memapah dirinya untuk berdiri dan kemudian menuntunnya untuk meninggalkan lading jagung yang daunnya berombak ditiup angin.
**********
Banyak orang berkumpul di depan rumah di ujung kampung di pinggir jalan itu. Mereka berwajah tegang dengan kopiah di kepala. Ada yang duduk di atas bangku, sice rotan, bangku bambu dan juga ada yang hanya berdiri di bibir aspal. Sementara dedaunan dari pohon jambu dan kelapa di belakang rumah bergoyang lembut merasakan kedukaan. Beberapa orang perempuan duduk mengelilingi jenazah seorang wanita. Kain panjang bermotif burung merak menutupi dari ujung kaki hingga dada. Wajah wanita itu putih, membeku. Doa-doa penghormatan mengalun, menerawang ke sekitar rumah berdinding bambu yang dipoles semen itu.
Jenazah itu ditandu keluar rumah, di mana orang-orang telah menunggu. Di antara mereka tampak Man dibungkus kemeja hitam, menunduk dan melangkah dengan berat mengikuti ibunya di atas tandu. Ia terus mengikut bersama semua orang dalam kesunyian, tanpa sepatah kata terdengar, menuju masjid. Wajahnya basah dan dingin oleh air wudhuk dan ketika seorang pria tua menghampirinya dan berkata, “Apa kamu mengimami shalat untuk almarhumah ibumu?”, Man menggeleng.
Ia malu. Ia tidak bisa melakukannya, walau untuk almarhumah ibunya. Mendadak ketakutan menyelimuti perasaannya ketika takbir pertama dimulai, takbir kedua kakinya gemetar dan kesemutan, ketiga, ia pun pusing. Dan di takbir keempat ia mulai mengutuk dirinya sendiri.
Ia dan Man ternyata telah menjadi dua. Ia menyalahkan Man. Hanya ia yang mengantarkan jenazah ibunya sampai ke liang lahat dan tidak membiarkan orang lain menyambut tubuh wanita itu ketika diturunkan ke dalam lobang kubur. Sementara Man?
“Kenapa kamu membiarkan ibumu jatuh sakit, Man?”
”Heeee…..,”
”Kenapa? Kamu tahu, kan, kalau ibumu sakit?”
”Heeee….,”
”Heeee!”
Man menggeleng-geleng, bodoh. “Apa sih urusanmu nanya-nanya melulu?”
“Kok?”
”Kok, bisa, heee….,”
Ia betul-betul mengetahui bahwa Man lebih mencintai motornya daripada ibunya sendiri. Dan ia melepas Man dari balik punggungnya, ketika Man mendahului meninggalkan proses penguburan yang belum usai. “Ia tidak mau menjual motornya kembali untuk mengongkosi pengobatan ibunya itu…,”
Man tidak mendengar keluhan terhadap dirinya. Ia bergegas kembali ke rumah, mengambil kunci motor di dalam kamar dan sekarang ia tengah berdiri di depan benda itu; motor merah dengan shockbeker pendek, plat resing, spion pendek – semuanya pendek…., ia tersenyum
Motor pun menderu, meninggalkan rumah menuju lekukan jalan kota ke Selatan. Rambutnya yang ikal berombak diterpa angina. Dan ia telah membuat jalan yang panjang itu menjadi pendek!
Man melambaikan tangan sambil sesekali membunyikan klakson.
tamat
June 17, 2009 at 10:38 am
wah, kunjungan pertama ke rumah sumando uda vizon.
agaknya saya harus membaca dari awal nih, da once.
tapi dari cerita ketiga ini, saya tahu bahwa kedua cerita sebelumnya juga tak kalah menarik!
selamat menjadi bloger! terus bekarya!
June 17, 2009 at 11:56 am
eh, ternyata dah ada lanjutannya.. maluu deh..
akhirnya agak2 ga ngerti.. maksudnya membuat jalan panjang menjadi pendek itu gimana ya uda?
June 17, 2009 at 1:05 pm
Wahhh kok tamat mas…
June 25, 2009 at 1:36 pm
Da adi, yobana menyentuh caritonyo.. Tabayang bna de’ ike baa “kecewanyo ibu man, jo parangai anaknyo”.. Mudah2an ndak ado “Man – Man” yang mode itu, selain d dalam carito ko……