Terakhir kali Man dan ibunya melihat sebidang tanah itu dengan motor. Wanita tua itu hanya bisa beridiri mematung dengan besi pancang pembatas. Jakung, istri dan ketiga anaknya berjalan-jalan di atas sisa-sisa tanaman jagung yang daunnya telah mulai mengering. Ketiga anak Jakung yang masih kecil dan gemuk-gemuk itu melonjak-lonjak senang. Mereka memainkan tanah berwarna hitam itu, membuatnya menjadi bulatan dan mulai melempar ke berbagai arah. Terdengar teriakan Jakung yang melarang anak-anaknya bermain lemparan bola tanah itu. Jakung telah merencanakan banyak gagasan untuk masa depan sebidang tanah yang baru saja menjadi miliknya.
Man dan ibunya telah mendengar dan mengetahui apa yang akan terjadi. Mereka telah menyerahkan satu-satunya warisan yang mereka miliki. Sepanjang jalan, mimpinya kembali bermain dalam pikiran, dan ibu itu menangis. Man tidak merasakan air mata wanita itu membasahi pundaknya. Pikirannya adalah jalan yang penuh debu, parit dengan airnya yang jernih dan rombongan bangau menggelepar dari dalam sawah ketika seorang petani mulai mengayunkan cangkulnya ke dalam lumpur. Seorang bocah berdiri mematung ke arahnya, memperhatikan Man dan ibunya di atas motor kemudian melambaikan tangannya yang mungil ke arah mereka. Man membalas dengan membunyikan klakson. Read more »
