Archive for the pena Category

Ibu dan Klakson Motor (3)

Posted in pena with tags , , , on June 17, 2009 by fauzahadi

Terakhir kali Man dan ibunya melihat sebidang tanah itu dengan motor. Wanita tua itu hanya bisa beridiri mematung dengan besi pancang pembatas. Jakung, istri dan ketiga anaknya berjalan-jalan di atas sisa-sisa tanaman jagung yang daunnya telah mulai mengering. Ketiga anak Jakung yang masih kecil dan gemuk-gemuk itu melonjak-lonjak senang. Mereka memainkan tanah berwarna hitam itu, membuatnya menjadi bulatan dan mulai melempar ke berbagai arah. Terdengar teriakan Jakung yang melarang anak-anaknya bermain lemparan bola tanah itu. Jakung telah merencanakan banyak gagasan untuk masa depan sebidang tanah yang baru saja menjadi miliknya.

Man dan ibunya telah mendengar dan mengetahui apa yang akan terjadi. Mereka telah menyerahkan satu-satunya warisan yang mereka miliki. Sepanjang jalan, mimpinya kembali bermain dalam pikiran, dan ibu itu menangis. Man tidak merasakan air mata wanita itu membasahi pundaknya. Pikirannya adalah jalan yang penuh debu, parit dengan airnya yang jernih dan rombongan bangau menggelepar dari dalam sawah ketika seorang petani mulai mengayunkan cangkulnya ke dalam lumpur. Seorang bocah berdiri mematung ke arahnya, memperhatikan Man dan ibunya di atas motor kemudian melambaikan tangannya yang mungil ke arah mereka. Man membalas dengan membunyikan klakson. Read more »

Ibu dan Klakson Motor (2)

Posted in pena with tags , , , on June 16, 2009 by fauzahadi

Cahaya mentari menusuk ke permukaan kulit. Jalan-jalan di kampung itu meliuk-liuk dipenuhi kendaraan yang meluncur menuju kota. Man menghapus keringat di dahinya. Ia telah meninggalkan ibunya yang masih terlelap di kamar. Sekarang ia berada di depan toko kelontong yang ramai oleh pengunjung. Pengunjung-pengunjung tidak memperhatikan dirinya, mereka keluar masuk dengan menenteng bungkusan besar dan di antara tubuh-tubuh itu Man bisa melihat pria gemuk berkacamata itu.

Orang memanggilnya Jakung, sebuah nama dengan arti yang tidak memaksakan sebuah arti. Ia tenang memperhatikan karyawan-karyawannya meladeni pelanggan dan tidak menyadari kehadiran Man sebelum ia berniat bermain mengutak-atik mesin hitung. “Eh, kamu Man, apa kabar?” Read more »

Ibu dan Klakson Motor (1)

Posted in pena with tags , , , on June 15, 2009 by fauzahadi

Man tengah melangkah di jalan aspal sore itu, sementara semua penduduk telah menutup pintu dan jendela rumah mereka. Bibirnya mengering oleh uap kafein dari dalam perutnya juga mengakibatkan kepalanya menjadi panas. Menyesal? Man menggeleng, menampik pikirannya sendiri. Ia bernyanyi, “Only woman can stop my eyes“, dan nyanyian itu menjelma menjadi rasa kantuk ketika ia membuka pintu rumahnya yang telektak di ujung kampung.

Bagaimana menjadi pria dewasa? Kabut tipis di matanya membayangkan seorang pria tengah membonceng wanita cantik dengan sepeda motor dan wanita itu memeluknya erat-erat. Ia seakan merangkak ke kamar mandi, membuka pintunya, membuka celananya dan melihat bayangan di dinding. Melihat pulau di tengah samudera dan ombak yang membentur karang dan butir pasir menyatu dengan percikan air laut, membentuk kristal berwarna putih. Ia meludah ke dalam toilet. Dari mulutnya keluar bunyi mendengung.

Man adalah seorang pria dua puluh tahun. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja menjadi buruh angkut sayuran di pasar pagi. Ia tidak bisa melarang ibunya untuk bekerja karena ia sendiri belum mampu mencari uang. Uang! Mata Man melotot ke langit-langit kamar, sementara bunyi mesin sebuah truk terdengar berhenti di depan rumah. Kepalanya masih terasa pusing, ia mencoba bangkit dan menyadari celananya belum dikancingkan. Dari balik korden ia bisa melihat ibunya bersama beberapa perempuan di atas truk. Sopir truk itu membuka ombeng belakang dan menahan pegangan ibu untuk menuruni truk itu. Ibunya yang kelihatan kurus dengan kemeja kotor dan celana yang memiliki kantong banyak, melambaikan tangan ke arah teman-temannya di atas truk, sementara truk itu meninggalkannya di tengah gumpalan asap berwarna hitam. Read more »