Archive for the puisi Category

tak bertepi

Posted in puisi on July 20, 2009 by fauzahadi

Mungkinkah membayang
wajahmu di ruang
tak bertepi?
rimbun daun
meronta di kulitmu. Capingmu
membenam di sisa
langkah gersang.
kau putar waktumu
sekadar tiang batu,
besi, beton
mencuat. Pekik
akhir di awal tahun
ini adalah sisa
benalu di kayu
mati.

di atasmu merah

Posted in puisi on July 15, 2009 by fauzahadi

Merah!
Apakah tanah tetap menjadi gumpalan
kapas terserabut memohon jadi
debu?

Ia menampar ujung jarimu
dalam temaram pinggir sungai
kau usung wadah cinta
dalam tangis masa lalu. Ketika
onggokan sampah mengalir
dari kapal kayu
matamu yang sipit merona
mengangkang
tampak lemas saat menelentang
sekarang

Ia menjadi keranda
di bawah pabrik dan tonggak
jembatan

Di bawah mimpi remang lampu
lima watt
panasmu ngilu
lelah dan
lesu.

gerimis

Posted in puisi on July 9, 2009 by fauzahadi

Senja bergeming ketika gerimis turun satu-satu.
rambutmu tercium. Ia adalah ranting merengas
dalam kubus bercabang memohon. Wajahmu rebah
di sisi tubuhku tertutup basah. Handuk memeluk kita
mungkinkah melepas seperti gumpal awan?
sepanjang tahun keringat menyapu gelisah.
Tidak ada janji terpaut.
Ia hadir pada bidang datar untuk satu kata dua alinea
kau lihat urat membalut tulang memecah kerasnya batu?
di sore gerimis lembab dan bau tanah mencium amismu
resah…

Dan
sebelum gelap kita duduk di ruang tamu. Lidahmu panas
retak kaca jendela pecah di kepalaku. Hingga gerimis
menyapu rambut mengering dan hilang…

Dengan tombak menghunus langit

Posted in puisi on June 18, 2009 by fauzahadi

Dengan tombak menghunus langit
seorang pendeta menebar
abu kemenyan dan berkata
”Untukmu Indonesia, untukmu rajaku!”
Di abad ke-tujuh ini ujung perahu
mengait rentang jala di mana
penggal kepalaku
hanyut untuk sejengkal tanah.
karam membelah hutan Sumatera
ketika gadis menepuk dada
dan meniup ubun-ubunku
ujung jarinya anyir oleh do’a penipu
dan
sekarang janin itu
menendang ari-ari
aku mencari kepalaku di arus
…. dan
sungai meminyaki buta
mataku.

Payakumbuh, 19/03/2009

Titah Masalalu

Posted in puisi with tags , , on June 15, 2009 by fauzahadi

Seorang pemuda membungkuk di sudut
mata mahkota menempel bangga
dihempas kata. Ini titah!
kubunuh panah menembus punggung

Ini jagad dinding kota batu
mereka kembali bersama perigi
membawa seekor kumbang dan warung remang
-laut meliuk angin tropis di Utara pulau
mencoreng membenam bersama
pusung di dada. Titah belum didengar
ia berlari dengan tangan buntung
tercabik!

lempengan menumbuk dalam pundi
emas murni 24 karat…
lihat mata rajaku memijak pasi
rebah membawa sulaman puteri

bukankah ini sebuah mimpi?
di mana
aku terpaksa untuk mencari….

payakumbuh, 21/03/2009