ziarah 1

REDAKSI LAN Media datang ke warung malam itu, disitu bertemu dengan seorang narasumber yang bernama Aldiman, umur 43 tahun, pekerjaan malariak (Membuat kapuyan yang digunakan untuk memancing,) tidak terlalu lama, setelah pemilik warung menghidangkan kopi, pembicaraan pun dimulai.

“Pernahkan uda Aldiman pergi ziarah ke Ulakan, Padang Pariaman?”

“Ke makam Syekh Burhanuddin?” Aldiman balik bertanya.

“Ya. Benar.”

“Ya, sekali. Aku diajak Angku Luma.”

“Siapa Angku Luma itu, Da?”

“Guru tarikat dari Koto Panjang, Lampasi.” Jawab Aldiman. “Beliau yang mengajak kami pertama kali untuk ziarah ke Ulakan.”

“Ya, kapan berangkatnya?”

“lepas puasa tahun lalu. Yaitu pertengahan bulan Syawal, kami berangkat naik bis tiga perempat, satu lagi naik mobil L300.”

“Kenapa di bulam Syawal berangkatnya?”

Aldiman sedikit menggeleng, “entah, lah. Angku Luma mengajak kami berangkat waktu itu.”

“Seharusnya kan di bulan Shafar,” LAN Media berkata.

“Kedengarannya memang iya. Banyak yang berangkat pada bulan itu.” Jawab Aldiman. “Tapi kami tetap berangkat pada hari minggu, kalau tidak salah.”

“Berapa hari di Ulakan, Uda?”

“Sehari. Memang bermalam di sana. Pukul empat kalau tidak salah, kami telah sampai. Istirahat sejenak usai sholat Ashar, lalu jalan-jalan ke pinggir laut.”

“Makan nasi dengan gulai ikan kuah kuning, ya?”

“He…, he…, ndak. Sore itu kami sengaja tidak makan mengingat waktu maghrib akan segera masuk. Di waktu maghrib kami lah berkumpul di surau dalam areal makam. Setelah sholat maghrib, saya dan jemaah lain melakukan sholat tasbih.”

“Caranya?”

“cara sholatnya seperti biasa. Pertama saya memilih salah satu sudut dalam surau, dekat mihrab. Sholat tasbih membaca tasbih sebanyak tiga ratus kali. Yang namanya tasbih, diniatkan hanya untuk Allah semata.” Jawab Aldiman menerangkan.

“Memangnya ada niat lain, selain niat kepada Allah, Da?”

“Tujuan ke makam adalah untuk ziarah. Kita tahu bahwa Syekh Burhanuddin adalah orang yang dimuliakan Allah. Lagi pula, beliau itu memiliki banyak karomah. Sifat kita terhadap guru itu yang penting.”

“Tentang niat tadi, bagaimana, Uda?” LAN Media kembali pada pokok persoalan.

“Ya, itu dia. Sebagaimana dikatakan, tidak ada ilmu tanpa guru. Apa lagi ilmunya adalah ilmu agama. Ziarah adalah untuk mengenang jasa-jasa sang guru, bukan ditujukan seperti…,”

“Memang benar adanya, sebagaimana Uda Aldiman tuturkan itu. Tapi kadang ada juga yang salah langkah,”

“Ya, kalau yang itu saya juga kurang sesuai. Seperti ada yang membakar benang tujuh warna, atau mengambil tanah untuk dibawa pulang. Ini jelas tidak sesuai dengan ketentuan, Angku Luma sebelum berangkat selalu memperingatkan hal serupa itu.”

“Jadi Angku Luma senantiasa mengingatkan hal seperti itu?”

“Ya, itu penting. Silahkan nanti kalau bertemu dengan beliau. Angku Luma,ibarat kata, ibarat…,”

“Suluah bendang dalam nagari?” LAN Memotong.

“Bisa jadi…,”

“Besok kami berencana ke rumah Angku Luma.”

Sesaat kami terdiam.

“Oh ya, Da Aldiman. Ini mungkin yang terakhir, sebagai penutup. Menurut Uda Aldiman siapa betul Syekh Burhanuddin itu?” Tanya LAN Media.

“Beliau orang mulia, tepatnya orang yang dimuliakan Allah SWT. Dalam seratus tahun, mungkin lebih, tidak akan pernah muncul orang seperti Syekh Burhanuddin itu. Beliau juga punya peninggalan, seperti jubah dan sorban yang disimpan dalam peti. Nah, ini ada ceritanya…,”

“Apa, Da?”

“Ketika Syekh Burhanuddin wafat, tiba-tiba saja jasad beliau lenyap. Sementara kuburan telah digali, sampai hari ini kuburan itu dikenal dengan sebutan…, kuburan tingga, bukan, kuburan kosong kalau tidak salah.”

“Beliau akhirnya dikuburkan di makam sekarang, Uda?”

“Benar. Jarak antara kuburan kosong dengan makam sekarang itu kira-kira tujuh sampai Sembilan kilometer. Di situ kabarnya tempat beliau mengajar, nah ketika beliau wafat seseorang mendengar suara tahlilan di langit. Orang pun bertanya-tanya…,”

“Kekuasaan Allah yang menyelenggarakan jenazah beliau, bukan begitu, Uda Aldiman?”

Aldiman mengangguk-angguk setuju, tidak lama berselang LAN Media mohon diri, “Terima kasih atas waktunya, Uda.”

 

—–

Esok pagi LAN Media bertemu dengan Musni di rumahnya, masih satu kampung dengan Aldiman. Musni mempersilahkan masuk ke beranda dan seperti biasa percakapan dimulai tanpa banyak basa-basi.

“Apa tujuan orang ziarah ke makam Syekh Burhanuddin itu, pak Musni?”

“Ziarah membuat kita sadar dan semakin tebal keimanan kita kepada Allah SWT.”Jawab Musni.

“Mungkin lebih afdhal menziarahi makam orang tua sendiri dari pada harus jauh-jauh ke Ulakan, bukan begitu, pak?”

“Kalau masaalah itu lain fasalnya, ziarah ke makam wali berbeda dengan ziarah ke makam ibu-bapak sendiri. Dengan ziarah ke makam wali Allah kita bermohon berkat ilmu yang beliau miliki.” Jawab Musni menjelaskan.

“Sedangkan kepada ibu-bapak sendiri?” LAN bertanya.

“itu adalah kewajiban seorang anak kepada orang tuanya. Tapi ziarah ke makam wali adalah mencari berkat.”

“Berkat guru?”

“Tepat sekali. Tidak ada yang namanya ilmu tanpa melalui guru. Bisa-bisa setan membuat kita tertipu, dan membuat kita  makin jauh dari Allah.”

Musni kembali bercerita, katanya, “ada kejadian dari pengalaman saya sendiri. Ketika itu di bulan puasa, di surau Mak Tini, (Nama guru suluk di jorong Koto Tongah, Nagari Lubuak Batingkok, kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota), saat di khalwat seseorang mendatangi saya.”

“Apa kata orang itu, pak Musni?”

“Hei Musni, keluar lah kau dari situ. Saya ini guru kamu yang sebenarnya, tidak ada yang bisa memutus kaji kamu selain aku, begitu katanya padaku.”

Musni melanjutkan, “ entah kenapa aku menurut saja. Aku pun keluar dari khalwat, berjalan ke belakang surau, masuk dalam semak-semak…,”

“Kemana, pak?”

“Entahlah. Tapi rasanya telah jauh dan lama kami berjalan. Tampak sebuah bangunan rancak berdiri megah, namun tiba-tiba aku merasa wudhukku batal” Kukatakan pada orang itu bahwa aku akan ke air dulu. Namun tiba-tiba saja orang itu  menghilang, yang terdengar suara Mak Tini sedang memanggilku. Astaghfirullah! Aku langsung sadar…,”

“Untung saja kau cepat sadar, Musni. Orang tua itu adalah iblis yang akan menyesatkanmu. Kata Mak Tini padaku.”

LAN Media hanya terdiam saja.

“Seperti pak Musni katakan tadi, peran guru sangat lah penting, oleh karena itu kita dianjurkan untuk berziarah seperti ke makam Syekh Burhanuddin, benarkah begitu, Pak?”

Pak Musni setuju, “tepat sekali. Saya juga punya pengalaman terkait pengalaman saya di Ulakan. Kan di surau itu ada sebuah peti tempat menyimpan jubah dan sorban  Syekh Burhanuddin?”

LAN Media mengangguk membenarkan.

“Nah waktu itu berkat izin Allah, alhamdulillah saya berhasil membukanya. Dengan membaca zikir sebanyak tujuh puluh ribu kali…,”

“Berapa lama sampai peti itu terbuka, pak?”

“Tidak lama, kurang setengah jam terdengar bunyi ‘klik,’ dan anak kunci peti pun terbuka.” Terang Musni.

Sebetulnya masih banyak yang ingin ditanyakan kepada Musni terkait pengalamannya saat ziarah ke makam Syekh Burhanuddin tersebut, namun  mengingat waktu berjalan terus, LAN Media akhirnya minta pamit.

“Nanti sore kami akan ke rumah Angku Luma, pak Musni.”

Pak Musni melambaikan tangan ke arah LAN Media, “Jangan lupa sampaikan salam saya untuk Angku Luma!”

“InsyaAllah!”

 

—–

 

Sekitar pukul tiga sore, gerimis turun. Namun tidak jadi halangan oleh redaksi LAN Media untuk bertemu Angku Luma. Beliau terlihat masih kuat, apalagi ia masih bisa ikut malambuak padi di sawah, kebetulan ia baru selesai mengerjakannya. Angku Luma pun mempersilahkan tamunya masuk ke rumah. Muka beliau memancarkan…

“Maaf, Angku, kami minta waktu Angku untuk berbagi cerita terkait pengalaman Angku pergi ziarah ke makam Syekh Burhanuddin di Ulakan.” LAN Media membuka cerita.

“Memang saya sering membawa jamaah ke Ulakan, “ jawab Angku Luma.

“Menurut Angku apa tujuan ziarah ke Ulakan itu.”

“Yang penting dari ziarah adalah untuk menghormati guru. Salah satunya ziarah ke makam Syekh Burhanuddin, juga untuk mengingat jasa-jasa beliau dalam menyebarkan Islam di Sumatera Barat.”

“Pernah tersiar rumor dari mulut ke mulut yang mengatakan bahwa ziarah tiga kali ke Ulakan sama artinya dengan naik haji satu kali, menurut Angku hal ini bagaimana?”

Menggeleng sambil tersenyum, Angku Luma berkata, “ Bukan itu masalahnya. Saya sering sampaikan kepada jamaah, agar sungguh-sungguh dalam beramal dan meluruskan niat. Agar kedatangan kita ke makam tidak percuma.”

“Maksud Angku masalah berkah guru?”  LAN Media bertanya.

Angku Luma mengangguk membenarkan. “Namun untuk memperolehnya tidak mudah, banyak tantangan dan ujian.”

“Apa itu yang Angku maksud dengan ‘tantangan,’ yang sulit untuk meraihnya.”

“Tarikat itu adalah jalan menuju Allah SWT. Setiapa bulan puasa  saya ke Muko-Muko, Pesisir Selatan.”

“Apa kegiatan di sana, Angku?”

“Menyulukkan orang. Biasanya lima belas hari sebelum Ramadhan, saya berangkat ke Muko-Muko. Pulang setelah puasa, seperti kemaren itu, lima belas hari setelah hari Raya.”

LAN Media mengembalikan pertanyaan kepada pokok persoalan, “sosok Syekh Burhanuddin di mata Angku, bagaimana?”

“Orang saleh yang dimuliakan Allah.” Jawab Angku Luma.

“Apakah untuk sampai pada tingkat kemuliaan bisa diraih oleh siapa saja, Angku?”

“Dalam tarikat itu sebetulnya yang dicari, yaitu silsilah mencapai kemuliaan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat beliau, oleh sahabat diajarkan juga kepada sahabat-sahabat lainnya. Begitu lah sampai sekarang, silsilah adalah garis atau mata rantai ilmu agama yang tidak pernah putus.”

“Termasuk kita?” Tanya LAN Media.

“Ya, termasuk kita. Ada empat hal yang waib dilalui, pertama syariát, kedua tarikat, ketiga hakikat dan yang keempat makrifat. Khusus tarikat, seperti yang saya amalkan sampai hari ini adalah tarikat Nakhsabandi.”

“Apa bedanya nakhsabandi dengan Syattari, Angku?”

Angku Luma kembali tersenyum.

“kami mengerti jika pertanyaan ini dijawab tidak oleh Angku, tidak cukup waktunya. Perlu injury time, mungkin, bukan begitu Angku?” LAN Media mulai sadar bahwa waktunya kurang tepat, namun…,

“Tidak pula harus seperti itu,”Jawab Angku Luma. “Begini, biar saya katakan bahwa Nakhsabandi sedikit lebih lunak. Sementara Syattari agak ‘keluar’ dan perbedaannya yang penting adalah zikir. Pada Nakhsabandi dikenal zikir dua belas.”

LAN Media berpikir keras, sambil melirik ke luar terdengar dia berkata, “ Cepat saja, Angku, takut malam dan hujan bertambah lebat, di kampung ini dulu ada yang bernama Angku Lokuang?”

“Ya, ada. Pernah berjumpa saya dengan beliau. Saya dan beliau sama berguru kepada Angku Saman, dan Angku Saman berguru ke Kumango, kabupaten Tanah Datar.”

“Jadi Angku pernah bertemu dengan Angku Lokuang itu?”

“Buya Balubuh, pernah dengar nama beliau itu?  Nah, beliau Balubuh itu , umurnya memang lebih tua dari kami, (Maksudnya adalah Angku Lokuang dan diri Angku Luma sendiri.) tapi pernah bertemu. Ada cerita menarik tentang Beliau Balubuh, ketika akan ziarah ke Kumango ke tempat gurunya. Mobil yang ditumpangi ternyata penuh, Baliau Balubuh terpaksa tidak jadi berangkat. Di pertengahan jalan ban mobil itu mengalami kebocoran, tiba-tiba saja Beliau Balubuh telah berada di sana dan kejadian itu membuat semua orang terheran-heran dan takjub.”

LAN Media masih ingin melanjutkan cerita bersama Angku Luma, namun sayang waktu tidak mengizinkan. Di luar gerimis masih turun juga menunggu malam yang akan datang tidak lama lagi.LAN Media

 

 

 

 

 

 

Posted in pena | Leave a comment

Garis

Pintu kamar terbuka, dalam bayangan sesosok tubuh meraba dinding. Sesaat kemudian lampu pun hidup. Dinding ruangan itu bercat putih dan dipenuhi oleh sketsa potret wajah bayi. Gondang membuka jaket hitamnya dan melemparkan ke lantai di antara tumpukan kain yang berserakan. Suara orang memelas terdengar dari atas ranjang di balik sebuah keranjang kain. Jarum jam di dinding menunjuk  angka enam. Sebuah meja kecil dengan dua buah kursi terletak dekat jendela yang ditutup gorden berwarna kuning. Di belakangnya ada sebuah meja rias dengan setangkai bunga plastik tergantung di sisinya. Gondang duduk di sisi ranjang.

 

Gondang        (menatap menerawang ke arah potret wajah bayi di dinding,)

dulu mereka   dibungkus dengan handuk hangat ketika musim hujan menjelang.

(Sambil berdiri menyisir sisi ranjang,)

aku telah menempelmu dari lembaran majalah dalam sebungkus kardus yang dikirimkan untukku dengan sengaja. Wajah-wajah ini kususun rapi. Tapi sekarang kebisuan menertawakan apa yang pernah dijanjikan…

(tertawa sendiri,)

semua mungkin mengira aku merindukan bayi?

Kaca rias ini telah membuat aku membencinya. Ha,.., kadang kaca ini pasti pecah! Dengan ketelanjangannya ia pernah mencercaku, akankah pencarianku segera berakhir? Mungkin aku ini dikira bodoh, atau memang kenyataannya setiap kali gorden ini dibuka.

(Menggerutu,)

aku tidak kan membukanya, tidak…!

(gorden bergerak kearah meja rias, dengan cepat ia menariknya dan berdiri di sisi sebuah lemari kain berukuran besar,)

jangan, jangan…! Belum saatnya kalian menerangi kulit mukaku, kecuali dengan secangkir kopi dan tembakau gunung yang harum itu. Hmm..hmm, seleraku mengatakan sebaliknya tentang cerita dari detak jantung.

(seperti ingin mendengar sesuatu,)

nah, itu dia! Setiap kalimatku. Satu kata dipotong empat bagian menempel renyah di ujung lidah.

(Ia mencibir.)

 

Ranjang bergerak, sesosok tubuh wanita dengan perlahan muncul dari balik selimut. Jingga duduk malas sambil merapikan rambutnya yang acak. Ia seperti tidak menyadari kehadiran Gondang yang mematung di sudut lemari kain.

 

Jingga            Apa aku mendengkur? Wah, aku malu menceritakannya kepada siapa saja.

(Tersenyum masam seperti orang bodoh,)

Hei…, kau kah itu Gondang, apa yang sedang kau cari di lemari kain? Asam uratku membengkak melihat tingkah aneh dan kadar gulaku acak,..he..he…, tapi tidak apalah, itu lebih baik dari tidak sama sekali..Sekarang pijit kakiku!

(Jingga melonjorkan kakinya ke arah Gondang,)

Gondang     (menatap ke lantai, perlahan mengangkat kepalanya menerawangi dinding kamar dan berjalan ke meja rias,)

kemaren kulihat bulan menjauhiku, sekarang ia semakin mendekat. Tapi nafasnya masih terngiang di ujung hidungku. Aku lupa untuk mengatakannya padamu, Jingga.

(Ia tidak menoleh,)

Jingga          aku menyuruh biar tampak mukamu olehku tentang kebuntuan mana yang hadir begitu saja tanpa diundang. Atau jelaskan kepadaku tentang garis di bawah pelupuk mata yang kau goreskan hingga membuatmu sedih?

(Jingga menggerak-gerakkan selimut,)

Semalam aku bersamamu dan telah memaksakan kerapuhan menjadi satu di antara kita…

Gondang        (tanpa menoleh dan terus menatap ke kaca rias,)

atau tentang apa? Tentang  tumpahan warna yang menjijikkan itu?

(Gondang meluruskan badannya kemudian menoleh ke arah Jingga berkata dalam nada lembut)

Jingga, tolong ceritakan kepadaku sekali lagi tentang satu kata dalam setiap kalimatku yang telah dipotong menjadi empat bagian..

Jingga           (Jingga menatap ke arah Gondang dengan muka serius lalu mengangkat tangan kanannya menggerak-gerakkan seperti sedang memegang pulpen,)

tiap ritmenya melingkari sisi wajah sebagai eksperimen yang dicintai dan tidak pernah menipu. Katakanlah bahwa kelembutan tidak pernah akan mengeluarkan darah. Semalam mata ini masih terpejam dalam mimpi dan angan yang membuatku malu untuk menceritakannya…

Gondang        kenapa harus malu untuk menceritakannya padaku?

Jingga          aku malu berterus terang kepada orang yang menutup dirinya dengan selembar pembatas dan bagiku ia tidak perlu tahu.

(Jingga bangkit perlahan dari atas ranjang dan berdiri memunggungi Gondang,)

aku hanya ingin kau membersihkan potret-potret di dinding itu.

(Tertawa,)

ha…ha…, dua perintah dalam waktu bertikai untukmu. Tidak perlu memijit saat ini karena darahku telah mencair, sedikit sentuhan air hangat, segelas kopi dan terik matahari.

 

Jingga menyambar handuk di lantai, membuka pintu dan menutupnya kembali. Gondang menarik nafas dalam-dalam, membuka gorden seketika cahaya masuk menerangi kamar. Di balik jendela tampak Jingga melakukan gerakan erotis, melemparkan handuk dan menari dengan wajah puas. Sementara Gondang mengambil sebuah potret, melapnya dengan ujung kaosnya.

Di balik jendela adalah keseharian, sementara Gondang terus membersihkan potret-potret dan tidak menoleh kepada apa yang sedang terjadi. Lama Jingga menjelma dalam kesendiriannya. Ia baru saja menyelesaikan mandinya, mencuci semua yang tertinggal lalu memasukkannya ke dalam sebuah baskom. Ia terus menari dengan riang, menyapa kepada siapa saja. Seorang pria tua berjalan terbungkuk-bungkuk membuntutinya menuju seutas tali. Di belakang orang tua muncul tiga laki-laki dan mereka memperhatikan Jingga menjemurkan cucian. Jingga meringis ketika seorang pria datang memeluk dan menggiringnya menuju belakang.

Gondang baru selesai membersihkan potret terakhir ketika pintu kamar dibuka. Tidak ada siapa-siapa dan ia menatap heran kearah pintu.

 

Gondang         (sambil melangkah mundur ia berkata,)

kemanakah arah angin hari ini sehingga aku             ditinggal jauh? Kenapa kalian di potret itu menatap kosong, tidak ada jawabankah di bibir mungil kalian? Tidak ada yang perlu dijawab selain kekonyolan. Aku tidak mengharapkan kedatangannya, kalaupun itu terpaksa cukup untuk satu batang rokok.

(Ia mengambil rokok dari kantong jaket yang terletak di lantai dan membakarnya. Berkali-kali tidak berhasil menyalakannya, bahkan setelah mencari sisi dalam ruang kamar itu dan akhirnya ketika angin reda, tiba-tiba Jingga masuk mengenakan kebaya merah muda sambil membawa baki berisi dua cangkir kopi.)

Jingga         (Ia terus menuju meja di sisi jendela dan meletakkan dua cangkir kopi di atasnya,)

kisah ini hadir dalam sebuah tatapan di meja, sambil menikmati secangkir kopi. Tanpa kata tanpa wacana, selain tatapan saja. Silahkan, Gondang.

 

Gondang tampak ragu, sekali-kali tangannya bergerak menunjuk ke arah potret-potret di dinding dan dengan perlahan ia duduk di kursi sementara Jingga duduk pula di hadapannya. Sesaat mereka terpaku saling menatap di antara asap dari dalam cangkir-cangkir.

 

Jingga             ingin kuceritakan semuanya kepadamu.

(Mendesah memegang cangkir kopi dengan kedua tangannya.)

tapi tidak semudah kubayangkan seandainya diantara kita ada yang akan menderita.

(Ia menatap Gondang dengan hati-hati,)

Bukankah hari ini adalah ulang tahunmu, Gondang?

Gondang       (membakar rokok kemudian menoleh ke luar jendela di mana cahaya menari-nari.)

Semuanya setuju dengan kepergian dari masa kecilku, hingga akhirnya sepotong roti membuatku muntah. Betapa menyedihkan saat itu, mereka membiarkanku sendiri di luar, kedinginan, menggigil…dan ketika seorang wanita hanya bisa terpaku di jendela rumahnya memperhatikan sepasang perempuan tua meninggalkan jejak kaki di dalam kubangan begitu saja.

Jingga            kau mengatakan saat itu kau kedinginan?

Gondang        benar. Bahkan berlumpur…,

(Ia menoleh tepat ke ubun-ubun Jingga,)

harapan apa yang belum sempat dibicarakan selama ini? Aku hanya secuil angan, melempem tanpa arti. Semestinya hari kemaren aku tidak ke sini. Aku ingin menangis..

Jingga             menangis saja, lah!

Gondang      Jingga, kau tidak usah merayu, dalam semu kau masih membayangiku. Kau memilih untuk diam, bahkan dalam rencanamu semula… dalam jamuan saat ini, kau membuatku bertambah bingung, sayang. Selimutmu hangat, tapi kau tidak manyadari…

(Gondang hendak berdiri dari duduknya, tapi ditahan oleh Jingga,)

kau tidak bisa melarangku…aku hanya ingin mandi.

Jingga             (keheranan,)

selimutku hangat tanpa tubuh dekil yang mengganyang naluri dalam gamangku?

(Sambil berkacak pinggang,)

segelas kopi ini bisa mengakhiri segalanya..

Gondang        maksudmu?

Jingga           (berjalan meninggalkan meja, mengitari tubuh Gondang dan berkata,)

carilah apa yang belum kau pahami. Tapi penantian tidak akan membatasi kegelapan yang menutupi tubuhmu. Menurutmu perkataanku adalah seteguk kopi dalam satu cangkir? Silahkan menangis, menangis lah!

(Sedikit dipelankan suaranya,)

tapi lakukanlah setelah kau mandi…

 

Gondang meniup debu di atas meja, menyambar handuk lalu pergi menuju pintu. Sesaat tertegun dan kembali menuju meja, meraih cangkir dan meminumnya.

 

Gondang     aku percaya padamu, Jingga. Seperti wangi di bulan purnama, di malam buta ketika cahayanya menyinari langkahku dan saat itu kita untuk pertamakali bertemu.

(Ia meletakan cangkir,)

saat itu buluh perindu menari bersamamu, tanpa kau sadari waktu itu kau masih anak kecil,..

Jingga             konyol ucapanmu itu!

(Ia meringsek selangkah demi selangkah menghampiri Gondang,)

kau keterlaluan dengan berpijak pada masa laluku.

Gondang      ya, saat itu dibutuhkan hanya sebuah permen. Kau kulum atau dilempar ke dalam kolam. Saat itu banyak orang yang kasihan padamu, Jingga. Justru kau yang keterlaluan. Sekarang siapa yang menangis, kau kah, atau aku kah?

(gondang berlalu dengan cepat menuju pintu ketika teriakan mulai terdengar,)

Jingga          Gondang! Gondang! lihat telapak kakimu berbekas terpijak benang arang. Kau jangan hinakan aku. Tempurung kepalaku bisa pecah.

(Diam sambil tersengal-sengal,)

baiklah, baiklah. Aku lupa melingkari kalender hari ini.

(Mengangguk-angguk seperti berpikir,)

ingat, Gondang dengan perkataanku tadi, bahwa secangkir kopi bisa mengakhiri segalanya.

(kebingungan)

Tapi bagaimana caranya?

(Duduk di sisi ranjang dan termenung,)

bagaimana caranya?

 

Berselang waktu cahaya dari luar jendela sedikit redup. Barisan anak muda berjalan melintas  menenteng karung di kepala mereka dan Gondang dengan rambut basah mengiringi dari belakang. Serentak anak-anak sekolah itu menghindar ketika menyadari ada orang di belakang. Suara tawa tiba-tiba terdengar riuh bersahutan. Gondang marah lalu membuka pakaian dan melemparkan pakaian-pakaian itu ke lantai. Sekarang tidak satu pun pakaian menutup tubuhnya kecuali celana pendek warna hitam.

Jingga membisu di ujung ranjang dan menggeleng-geleng.

 

Jingga        kenapa aku harus menyimpan impianku sendiri ketika tonggak suci menanti keputusanku? Tidak mungkin untuk mengatakan dengan jujur dalam sebingkah emas yang kugali. Aduh, alangkah kejam perjalanan membiarkanku berlalu.

(Sambil menoleh ke arah meja dan di luar Gondang masih berdiri seorang diri bertelanjang dada,)Jingga bangkit dari sisi ranjang berjalan menuju jendela. Berdiri mematung sementara cahaya di luar mulai redup, perlahan, akhirnya mati menenggelamkan tubuh Gondang terkubur dalam kegelapan.

Kesunyian menjelma ketika Jingga berdiri menghadap jendela.

Jingga          adakah ruang mengurung keberanianku ketika jasad terbujur kaku?  Kegelapan menjelma menjadi fatamorgana untuk sebuah jendela ini. Ah, aku belum mengukur keliling bingkainya. Dua ratus kali tiga ratus, mungkin. Gondang memang tidak pernah menghujamkan linggis untuk membangunnya. Tapi aku bahagia ketika ditinggal sendiri. Di lain sisi, kesepian menghantamku. Oh, sepi…!

(Ia menaiki ranjang lalu mengambil sebuah potret.)

jemariku masih menyentuh debu di permukaan wajahmu. Gondang masih terpuruk dengan diri sendiri. Jiwa yang tidak mau berdamai!

(Masih memegang potret lalu kembai mendekati jendela.)

Mandi! Ya, Gondang sekarang pergi mandi. Oh, seandainya menjadi air dengan bulir-bulirnya itu. Uh, aku malu! Tapi aku merasakannya…merasakan tentang kalimat-kalimat yang menggelikan, bahkan menjijikkan.

(Menatap dengan dalam ke arah potret di tangan,)

he, garis putus-putus ini terlalu kaku. Sejak kapan petualangan seperti ini memaksaku untuk menyerah. Mengangkang dalam omong kosong simbol yang melayang bersama waktu?

(potret dilempar ke dinding,)

dan ketika aku ingin,  kembalilah kepadaku. Aku mohon. Please!

 

Perlahan cahaya dari luar jendela kembali terang. Tidak tampak lagi Gondang dan anak anak muda selain pria tua seorang diri menatap jemuran milik Jingga. Ketika pintu kamar terbuka, Gondang masuk mengenakan jas dihiasi dasi kupu-kupu warna merah. Sementara Jingga masih terpaku ke luar jendela.

 

Gondang       sejak kapan nyalimu disiram cahaya? Selama ini tidak pernah tuduhan meredam amarah, kecuali kesunyian. Jingga…,

(Gondang   mendekat dan berdiri tepat di belakang Jingga,)

Sekarang kesendirian hanya menjadi lelucon. Aku tidak mencemooh, ya padahal aku ingin…, hanya mencaci tentang pusaran waktu yang bermuara dari jantung dan harummu.

(Ia mencoba memegang bahu Jingga, tapi tidak jadi dan menatap ke cermin meja rias dan saat itu cahaya menerangi pantulan wajah mereka,)

Jingga             (tanpa menoleh)

bingkai ini memang belum sempat diukur. Coba lihat warnanya berserak dan cahaya muramnya mengelabui kita. Tentang keabadian adalah harapan yang direka-reka. Bertahun-tahun debu masih menempel setiap kucoba mengusapnya. Gondang, dengarkan bahasaku yang gegabah. Aku tidak ingin kerancuan berada di antara kita sebagai pembatas yang terbuka dan tertutup seenaknya.

(Masih tanpa menoleh dan tetap memunggungi Gondang,)

Gondang     (gondang seperti mencari-cari sesuatu. Ia hampir mengelilingi kamar sampai ia menemukan potret yang dilempar oleh Jingga tadi)

kenapa hanya satu potret menjadi korban?

( sambil duduk untuk meraih potret, Gondang meratap,)

Ia tidak seharusnya berada di sini, menatap kebuntuan dengan mata buta. Dan hanya menyisakan sedikit senyum bimbang. Seharusnya ia selalu bersamaku. Selalu…

(Gondang bangkit dengan membiarkan potret tetap di lantai,)

 

Pria tua melakukan gerakan aneh, mengelilingi tali jemuran dan berusaha meraih kain-kain itu dengan tongkatnya. Cahaya di luar hidup-hidup mati ketika semua jemuran menjadi satu tumpukan dan pria tua itu menyulutkan api mencoba untuk membakarnya. Sementara Jingga dan Gondang tetap dalam suasana memilukan, tentang keabadian yang sumbang.

 

Jingga         aku tidak menduga perjanjian itu akan berakhir. Harapanku adalah masa lalu yang ditertawakan oleh terik sang surya. Jauh aku menceritakan padamu,

(berpaling kearah Gondang)

Tentang cerita itu…,

(sesaat membisu, Gondang hanya bisa menatap,)

Gondang, untuk itu kau lah menaranya. Kau mungkin saja merayap dan menghabiskan semua waktu dengan angkuh. Tapi tidak semua lelucon jadi bahan tawa, dan kau akan mengetahuinya. Ya, tentang kehendak dalam secangkir kopi untuk sebuah kebahagiaan? Ah, masa bodoh!

(Jingga menaiki ranjang dan mengumpulkan semua potret yang ada di dinding,)

Gondang      gelitik tawa memang tidak datang dengan sengaja. Tipuan kadang datang silih berganti. Dalam jamuan tadi rencanamu hilang, Jingga. Kau melupakan perkataan sendiri. Tanpa kata tanpa wacana selain tatapan. Stimuli?  Tahukah kau dengan kata stimuli?

(Gondang mengitari Jingga yang berada di atas ranjang,)

Perbuatanmu dan sikap keangkuhan akibat kata-kata?

Jingga             (berhenti sejenak dari mengambil  potret-potret dan berpikir keras)

Kata-kata tidak tumbuh merengas dari kulit yang keriput. Selain panas, aku tidak merasakan apa-apa.

 

Sementara di luar jendela orang tua telah mulai membakar    tumpukan kain.

 

Seperti saat kumengenalmu sekarang ini. Gondang, tengoklah dirimu yang terbungkus dalam kepalsuan. Semestinya buah ranum jangan dikudap sendiri, padahal kau berusaha menjual kelicikan. Selama ini kau mengajakku memoles bersama, tapi waktu berbicara lain…,

Gondang        kau tidak sadar dengan apa yang telah kau perbuat. Dalam dagingmu tersimpan cairan pekat yang meluluh lantakkan kesadaran.(Gondang merampas salah satu potret yang berada di tangan Jingga dan wanita itu tidak berusaha untuk menahannya,)

Kau tidak akan bisa menahannya. Menangislah seperti permen di kolam dan kau betul-betul menjadi anak kecil. Bodoh, ingusan dan menjijikkan!

Jingga            aku tidak mau menangis sendiri!

(Sambil melompat dari ranjang dengan membawa sisa potret  di tangan,)

Asap mulai mengepul dari unggun kain di luar jendela.

Gondang                 (mengangkat potret tinggi dengan sebelah tangannya,)

Kenapa harus ragu untuk membakar. Hanguskanlah! Ada apa dengan jam itu?

(mendekati jam dan memperhatikannya dengan seksama,)

Kau sendiri yang merasakan kepedihan sebagai pajangan yang tidak ada arti. Janjimu hanya sebatas perputaran masa. Lihatlah si wanita yang selalu meringkuk di balik selimut, berkeringat dan bau!

(Meludah lalu berpaling menatap jingga penuh penyesalan secara berangsur-angsur,)

Maaf, maafkan aku, Jingga. Aku tidak ingin siapa pun mempermainkan kita. Ya, kita…,

Jingga                       (sambil melepaskan potret-potret di tangan begitu saja,)

Jangan! Katakan sejujurnya tentang apa yang ingin kau katakan!

(berpaling dan melangkah,)

Kau tahu, Gondang, tentang peraduan kita? Mereka menghardik dan menjilat setiap sudut di ruang ini. Kamar ini adalah keangkuhan mendebarkan! Untuk kau ketahui, Gondang, lupakanlah. Lupakanlah semuanya. Jangan meratapi masa yang suram. Hiasi bibirmu dengan duplikat kata yang berujung. Ya, tentang kita ini.

Asap mulai menipis. Di luar si pria tua mengais-ngais sesuatu dari sisa pembakaran. Lampu di kamar mati. Gondang menyalakan rokok dan membiarkan api hidup sejenak yang menerangi bawah dagunya.

Jingga        (tubuh  jingga tenggelam dalam gelap, bayangan dan suara memenuhi               ruang kamar itu,)

Sedikit cahaya untuk wajah dalam penderitaan. Aku tersentak dalam mimpiku yang meraba gagu hingga kuputuskan untuk meniupnya. Pahit, memang! Walau perpisahan adalah kata tabu untuk diucapkan. Akankah surya menempel lekat di hatimu yang gelap?  Sesaat mencoba berdiam diri, mengeluh dengan nafas wangi, saat kau membelahnya dalam rahimku. Satu-satu janjimu terpaut tapi bukan menurut kemauanku. Peraduan kita tertutup oleh selembar pembatas, warna mencolok dan menyesakkan. Singgah, singgah, lah! Aku akan hadir bersama angin, itu pun jika kau sudi meniupnya..,

Api di bawah dagu Gondang mati, suasana menjadi gelap gulita. Sayup-sayup terdengar suara gitar mengalunkan keniscayaan. Suara gendang, suara manusia dan suara pekikan memenuhi kegelapan. Musik berhenti dan kebisingan itu mendadak sunyi. Kegelapan masih berdiam sesaat sampai terdengar suara langkah kaki dan suara pintu terbuka.

Lampu pun hidup

Gondang berdiri di depan ranjang dengan mengenakan kaos putih. Di atas ranjang seseorang sedang tidur ditutup selimut. Kamar ditata dengan rapi. Kain gorden berwarna putih menutupi jendela dan sekuntum bunga menempel di dinding meja rias. Di dinding kamar tidak ada lagi potret wajah bayi tergantung dan jam menunjuk angka delapan.

 

Gondang                 (menerawang mengelilingi dinding kamar sambil tersenyum,)

Di sini aku merindukanmu sementara mimpi menjadi permainan lucu dalam tidur.

(ia melangkah menuju jendela dan menatap ke gorden yang menutupinya,)

Pembatas ini tidak pernah menceritakan dengan jujur apa yang terjadi di baliknya. Atau aku harus berada dalam sisi berbeda untuk mencari sudut pandang tanpa asumsi. Lihatlah warna meneguhkan pendirian seandai ada yang ingin mencoreng.

(ia berpaling ke atas ranjang untuk melihat ke tubuh yang ditutup selimut,)

Bisa saja aku mencari jalan untuk bersembunyi di dalam peraduanmu. Tapi kutakut jika tuduhan kembali menimpaku. Aku yakin dan percaya tentang rupa dalam potret-potret itu.

(gondang berjalan sedikit lalu duduk di sisi ranjang,)

Akankah membuat potret dengan mata terpejam sehingga lupa ujung garis yang disatukan?

(pertanyaan itu membuatnya gelisah, berpaling dan memunggungi sosok yang terbaring di ranjang,)

Kadang terpikir untuk menutup polesan kaca dengan tangkai besi dan gumpalan semen yang keras. He, biar geraham tidak bisa menggigit dan mereka menjadi cecunguk dalam ruang sendiri. Tapi, aku takut gelap!

Jingga             kau tidur semalaman?

(Jingga tiba-tiba bangun sambil menguakkan selimut dan memperbaiki rambutnya yang acak dengan mengenakan gaun tidur berwarna putih. Ia bicara tanpa menoleh kepada Gondang,)

Telah kuceritakan pada angin bahkan kepada siapa saja dalam mimpiku. Ia adalah dentuman untuk satu pukulan. Kau tidak akan merasakan sakit, Gondang.

(meringis)

Gondang        aku hanya ingin keluar dari gelap!

(menatap lurus seakan memohon dan heran ketika melihat Jingga tersenyum)

Kenapa kau tersenyum?

Jingga                      tentulah semuanya kadang ingin membuatku tertawa. Tersenyum? Ya, terserah apa namanya. Gondang, aku jelas melihatmu dalam kebahagiaan meski energimu terkuras.

(Jingga turun dari ranjang menuju ke meja rias lalu membuka laci,)

Merah muda merupakan warna indah untuk dikenang.

(sambil memperhatikan lipstik di tangannya,)

Permukaannya jangan biarkan mengering. Alunan keniscayaan seakan nyaring mendendangkan kepiluan. Aku heran padamu, Gondang, tentang jarak yang memisahkan dan waktu yang semakin menjauh…,

Gondang bersandar di bingkai tengah jendela, kaki kanannya terangkat. Ia memperhatikan Jingga.

Gondang         (dengan wajah cemas dan mata agak dipicingkan,)

Kehadiranmu masih seperti dulu, meski kenyataan terkurung batas, walau sebagai tuas dalam dada yang terpanggang.

 (sedikit menuding, berpangku tangan dengan angkuh,)

Hari-hari dipenuhi kegelapan dan hanya sedikit menyisakan cahaya. Bagiku, kau adalah sosok terpendam yang tidak perlu dirahasiakan dan mengerti arti perjalanan.

Ada kegalauan menghantuiku seperti gerak bahumu untuk mempertahankan kata…,

Jingga             pantulan wajah di cermin telah menceritakan kejujuran.

(jingga menempelkan lipstik, mengambil bedak dan memoleskan ke wajahnya)

Tidak semua kata bisa dipercaya, seandai dibatas peri dalam kesombongan. Gondang, kau membiarkan masa melintas di kepalamu.

(Berpaling ke arah Gondang.)

Jadi..,

Gondang         (Gondang melihat ada  sesuat yang lucu di wajah Jingga yang berdandan seperti       seekor tikus keluar dari tepung. Ia tertawa,)

                                Menurutmu kesempurnaan ada dalam kesadaran, di atas permukaan yang dipoles dengan sengaja? Ha…, biarkan aku mengelupas untuk menuang panas di gelitik dan jangan sentuh luka di jantungku!

(Masih dengan air muka mengejek,)

Tadi kau mengatakan tentang jam yang melintas di kepalaku?

Jingga         ( bangkit dari duduknya berjalan menuju sisi depan ranjang, berdiri di lemari pakaian dan mengetuk-ngetuk )

                                Benar ucapanmu meski kau sendiri ragu. Seperti di lemari ini…,

(Berpaling,)

Ragu dengan ucapan sendiri adalah kebodohan tanpa penawaran. Padahal ruang menyelimutiku dalam detik waktu. Kenapa tidak perhatikan warna dalam dua masa sementara kita berada di antaranya?

(berjalan mendekati Gondang,)

Kau boleh tertawa sesuka hati dengan wajah terasing. Di ruang ini tidak ada pembohong yang akan menceritakan sosok manusia di depanmu,.. Bongkarlah kelembutan itu dengan mengurai semua lipatan hingga mencium rentan aroma keniscayaan.

(mencibir,)

Gondang, kau pria mengejutkan!

Gondang                 (tertawa sambil berusaha menutup mulutnya,)

Aduh, Jingga. Belum juga punah kesunyian dalam kenyataan, sementara kesendirianmu mengangkang di depanku?

(bergumam,)

kehadiran adalah pertemuan tanpa kata sumbang yang melambung dendam di antara kita. Dan setiap wajah menunduk malu terkikis – maka ketahui, Jingga…, dimana…,

(berhenti sejenak menarik nafas,)

dimana keterpurukan kau sembunyikan?

Jingga      (berjalan ke arah saklar lampu lalu mematikannya dan kemudian menghidupkannya kembali,)

                                Kau tidak perlu menghapus jejak dan biarkan debu menutup ujung jarimu. Sementara aku berada dalam bimbang, di antara bingkai kaku selama belum muncul keperihan yang pengap?

(menatap tajam ke arah Gondang,)

Selama kau mencoba untuk menghentikannya, saat itu nyali bicara, maka aku akan berdiri dengan wajah menantang,…

Gondang         (bertepuk tangan,)

Sebaliknya kau harus menunduk, meratap dan memohon,..

(berjalan mengitari kamar,)

Memohonlah pada kebisuan hingga luka tersapih. Tidak perlu dikenang tentang batas muram hingga kecewa membiusmu. Lagi pula itu hanya bingkai, untaian dan percikan noda hitam yang membosankan.

(mendekati Jingga kemudian berpaling ke arah jendela,)

Sesuatu telah membenciku di luar    sana…,

Jingga berjalan perlahan di sisi Gondang sambil menatap penuh perhatian. Tangannya bergerak serba salah sementara Gondang tetap pada keraguannya tentang dunia di balik jendela itu.

Gondang    seandainya aku hadir di tengah kebisingan dan wajahku terluka, dimanakah tangismu kau pendam, Jingga?

(Tanpa memperhatikan Jingga,)

Telah lama aku ingin meletakkan jauh di dasar hati, meski lambaian menghardikku. Dalam diam ia menjauhiku. Jauh di ujung sana. Ya,

(mengangguk-angguk,)

Ya, kau tidak perlu menjawab.

(Jingga berubah sikap, mencibir.)

Setiap kata adalah kebohongan. Kita dipaksa yakin dan percaya tentang kegalauan. Aku telah merobek mulutku sendiri dengan paksa. Kau tidak perlu tertawa di sini untuk kepalsuan sukma…,

(menepuk dada,).

Di dada ini…,

Jingga             cahaya telah sirna , Gondang.

(Ia berdiri di belakang Gondang menengadah,)

Sesuatu telah kau lupakan hingga diam mencekam kita hari ini.  Aku telah melingkarnya dan berbekas di ujung jari. Kita tidak bisa keluar dari kebuntuan. Aku sendiri heran, adakah kebuntuan memiliki jalan terang. Aneh…,

(Jingga meringsek mundur dan seakan melihat kehancuran di depan matanya,)

Aneh…saat batang tubuh membatu!

 

Gondang                kekhawatiranmu membuatku takut. Telah lama kusimpan esensi dalam kefanaan, tapi kau hanya menunduk dengan air muka keruh. Sementara khayal tidak pernah memberi batas. Akankah kau akan menyimpan sendiri garis penyesalan seperti cahaya mengundur terang?

 

Jingga menggaruk kepalanya dan membiarkan rambutnya kusut masai. Ia melangkah menuju jendela, memegang gorden dengan penuh perhatian sementara Gondang menghindar perlahan ke arah meja.

 

Gondang                pada saat bingkai keluar dari framenya, tubuhmu mengecil, Jingga. Apa yang terpikir dengan lambaian hingga jarak memisahkan – ketika cahaya memberi arti, wajahmu terkesiap untuk menolaknya. Tapi…,

Jingga           pernahkah dulu aku menawarkanmu secangkir kopi, Gondang?

Gondang                (gondang menghampiri Jingga sejenak, kemudian duduk di atas ranjang dan      berkata sambil memandang pada jendela,)

                                Senantiasa menatap tanpa melakukan sesuatu, bagiku adalah persamaan naluri dengan garis tebal. Tapakku tidak pernah memijak benang arang hingga arah jelas dituju. Waktu di dinding, kepalamu tersembunyi dan kepalaku muncul – Ciluuuuk baaa!

 

Jingga membuka gorden tapi terhenti. Ia menunduk memperhatikan jari kakinya sedangkan Gondang menarik nafas puas.

 

Gondang                di dalam lemari masih ada sisa. Waktu telah mengizinkanku untuk angkuh yang terbenam dalam pengap. Tangguhkan terang cahaya menimpamu atau tuangkan isi gelap dalam lemari itu.

(melangkah menuju Jingga dan memegang pergelangan tangannya. Jingga terlihat enggan, tapi akhir menurut. Di depan lemari Gondang mengusap rambut Jingga dan berkata,)

Terlalu lama penantian ini…,

Jingga                     adakah sesuatu membuatku membukanya?

( Jingga sedikit risih ketika Gondang menyentuh bahunya,)

Tentang,…takut?

Gondang     mata tidak perlu dipejamkan, karena gelap akan datang. Aku telah mencari kemana-mana cerita tentang apa saja yang membuatku tidak berarti. Wah, aku benci igauan di sisi miring keyakinan!

Jingga                     ciluuuk baa!

(Jingga menarik gagang pintu lemari, tiba-tiba saja lampu mati. Keadaan menjadi gelap gulita. terdengar suara Jingga memelas dan…berkata,)

Waah, gelap!

 

Suasana sunyi beberapa saat sampai terdengar suara Gondang.

 

Gondang                katakan ini adalah rencana terselubung dalam mimpi, kita. Seandai menara terangkai, tentulah kegamangan semakin menjadi. Sejak aku adalah kamu dan bunga terpangkas merengas!

Jingga                     waah, gelap!

Gondang                selama ini bulan tidak pernah muncul. Tidak ada sumber terang menjadi alasan takut pada diri kita. Jingga, suaraku memelukmu. Mereka pasti tertawa untuk erektor birahi! Lihat kebodohan itu terpaku, berjejer tanpa arah.

Jingga                     maaf, Gondang. Gelap! Tidak ada yang terlihat. Aku jujur tanpa disentuh oleh karatan asing dari kulitmu. Apa kau tidak merasakannya?

Gondang                entah lah! Sayup-sayup aku menggapaimu tentang penawaran? Pergi dan menjauh dari kebohongan ini. Dan kesadaran itu sangat menikamku, bahkan menempeleng endapan sukma…,

Di dada ini!

 

Terdiam dan kembali sunyi….

 

Jingga                     kau tidak menepuk dada? Suara itu ingin kudengar meski tak tampak.

Gondang                aku ingin menangis. Tidak perlu iring musik pilu mengantarnya. Aku ingin…ha? Kau pasti berkata, menangislah!

 

Sunyi…

Kegelapan masih menyelimuti diiringi musik bernada gagu tentang sejuta pertanyaan. Perlahan cahaya keluar dari arah jendela, semakin lama semakin terang menyinari isi kamar yang kosong. Meja masih terletak di sudut jendela dengan dua kursi pada kedua sisinya. Sprei di ranjang ditata rapi dan masih tidak ada potret wajah bayi di dinding dan kain berserakan di lantai. Hanya saja terletak bunga plastik kuning di antara dua cangkir kopi yang mengepulkan asap di atas meja.

Di luar jendela yang terang benderang, pria tua menggantungkan potret di tali jemuran. Potret wajah bayi itu terayun-ayun, sesaat pria tua menatap dan kemudian berlalu dari tempat itu.

Gondang dan Jingga memasuki kamar dengan mengenakan pakaian santai, mereka terlihat ceria. Mereka melangkah menuju meja di sisi jendela tanpa bergandengan. Gondang yang pertama duduk, disusul Jingga.

 

Gondang                lihatlah diri kita ini saat berdua dari sisi latar yang terang sementara cahaya masih terbatas. Kita tidak bisa menipu kejadian masa silam.

Jingga                     kau ingin mengakhirinya?

Gondang                kapankah tatapan menjadi lakon dalam sebuah adegan seperti  menu tempo dulu itu?

(ia menatap pada cangkir kopi di depannya,)

Semuanya hanya kubaca,…

Hanya terbaca…,

 

Jingga dan Gondang saling menatap, sementara di luar jendela potret bayi berayun-ayun di tali jemuran. Jingga memegang cangkir dengan erat.

 

Jingga                                     di balik pintu terdengar telapak kaki dan mukamu ketakutan saat memandang      kebisuan. Kau membawa kenangan itu dalam pangkuanku. Waktu kita tertawa bersama, seperti sekarang ini meski tanpa noktah yang kurus, kau mengejanya untukku.

Gondang                di balik makna tergurat sisipan yang menyedihkan. Aku ingin kembali membawanya pulang. Di manakah perhentian akhir dari semua ini.

(Jingga menyadari sesuatu dari ucapan Gondang,)

Dimanakah perhentian tanpa bunyi yang menyayat?

Ah, apa aku terlalu serius?

Jingga                                     semua bisa kusaksikan dari jerai gelap seperti kukatakan, tanpa nada selain tatapan saja. Yakinkan untukmu bahwa ini hanya kutipan lucu maka silahkan tertawa di hati yang terburai!

Gondang                kutipan untuk perjalanan tanpa jejak?

(Gondang berbicara setengah berbisik,)

Hari dalam kelender telah dilingkari tentang keputusan yang menggembirakan.

(ia tersenyum,)

Dan kau, Jingga, juga telah luangkan waktu dalam masa terbatas untuk sebuah prestise ketika malam mengharukan. Saat enggan menceritakan mimpi-mimpi.

Jingga                     (mencoba memandang Gondang dari suatu sudut pandang,)

Sekarang kehadiranmu adalah tatapan satu arah menjelaskan peta-peta di jaring kepalamu hingga aku enggan keluar dari persembunyian…,

(berpikir,)

Sesuatu telah mengelabui dan mengesatkan wacana. Hmm.., coba tebak?

Gondang                ( seperti orang tolol dan ia masih menunggu kelanjutan pembicaraan Jingga,)

                                Bolehkah aku menikmatinya sekarang?

Jingga                     tunggu nada berdering pada angka-angka supaya kepergianmu meninggalkan senyum.

(Ia memandang pada cangkir-cangkir itu,)

Ketika posisi di luar, kita hanya objek tolol dan picik. Seperti anak-anak dan permen. Oh…, aku ingin menangis jika waktu merelakan kepedihan, tapi bagaimana caranya?

(tidak menghendaki respon dari Gondang,)

Kebimbangan tidak akan mencegah karena ia adalah pelangi malam yang tercoret!

Gondang                mereka telah menunggu kedatangan asing. Salah satunya membawa batu penikam panji-panji. Ia telah mencoret garis-garis penantian atau semua harus dimulai?

                                (Gondang melihat Jingga meminum kopi,)

Hitamnya telah mengelabui…

Jingga baru saja menyelesaikan minumnya seteguk. Di luar jendela, di bawah tali jemuran,pria tua kembali muncul dengan membawa sebuah kampak di tangannya. Pria tua itu mengambil potret-potret dari jemuran dan menyusunnya di atas lantai…,

 

Jingga                     silahkan Gondang.

(Jingga menganggukkan kepala kepada Gondang,)

Aku akan mengenangmu.

 

Seiring kalimat Jingga terdengar bunyi suara kaca pecah. Si tua memukul semua potret di lantai dengan kampak.

Cahaya menghilang  secara tiba-tiba dan kegelapan mencekam. Tiada suara terdengar selain bunyi kaca dipecahkan perlahan-lahan suaranya semakin mengecil dan akhirnya sunyi.

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi tapak kaki manusia terseok-seok di dalam gelap. Seberkas cahaya dari pemantik api yang dibakarkan ke sumbu pelita akhirnya menerangi wajah seorang pria tua sedang meraba-raba sesuatu. Ia berjalan pelan terbungkuk-bungkuk sampai akhirnya ia menemukan apa yang dicari.

Klik!

Lampu hidup.

Pria tua itu meletakkan pelita di atas meja dekat jendela dan mematikan apinya. ia sedang berada di dalam kamar dengan susunan perabot seperti dulu, selain meja yang kosong, di  dindingnya juga tidak ada satupun potret yang tergantung. Di atas ranjang juga tidak siapa-siapa. Lemari pakaian dan meja rias masih dalam posisi yang diam membisu.

Pria tua  (menatap menerawang keliling kamar dan berkata,)

Aku tidak pernah menghitung tanda-tanda hingga mengeja dengan lidah gemetar,  sampai pada masa ketika aku mencari kepastian yang sulit ditebak. Seperti kekosongan ini.

(menatap ke dinding,)

Atau aku sendiri telah lupa?

(berdiri mematung sambil gigit jari,)

Ah, tidak mungkin!

Tidak mungkin melupakan riak keperihan dengan mengeja mimpi-mimpi. Atau kehampaan dimara oleh  dendam…

(ia berjalan menuju meja rias, duduk di atas kursi dan mengambil sesuatu dari dalam laci.)

Dendam?

Mana ada sukma terbelah menjadi tertawaan hati? Lelucon mana berani bertaruh tentang ruang yang indah ini. Ho…,

(Ia memegang lipstik,)

Aku mencium aromanya! He.., apakah?

(ia bangkit dari kursi di meja rias menuju jendela,)

Tidak ada yang akan terkesiap saat cahaya menerpa wajah!

 

Ia menarik gorden untuk membukanya. Setelah terbuka cahaya menerangi dua orang yang sedang duduk menghadap ke meja dimana di atas meja itu ada dua cangkir kopi. Kedua orang itu asyik bercakap-cakap dan wajah mereka terlihat bahagia. Pria tua hanya bisa berdiri menatap dengan cemberut. Kedua orang itu bangkit dari tempat duduk mereka, berjalan menuju pecahan-pecahan kaca dan mulai mengumpulkannya satu per satu.

Pria tua kembali menutup gorden, berdiri sejenak kemudian menghidupkan pelita. Beberapa saat kemudian lampu dimatikan dan ia melangkah menuju pintu kamar diterangi pelita di tangannya.

Cahaya pelita semakin lama semakin jauh meninggalkan warna keperakan.

Menyisakan sejuta pertanyaan dalam kesunyian yang diam dan bisu

Hingga warna  memijar dalam gelap

Sunyi dan sepi….

—–Juni 2010—-

 

 

 

 

 

 

 

Posted in pena | Leave a comment

Tinta Malam

Oleh

Fauzahadi

 

 

Tidak ada salam untukmu…,

Disini sangat dingin. Kota ini betul-betul telah membuatku putus asa. Kau ingat wajahku saat mentas bersama? Kita mabuk sambil mendendangkan rintihan lelaki malang yang telah membunuh ibunya.

Sekarang kamu sedang dimana? Ah, pasti kau kalah lagi, tidak berhasil bermalam minggu setelah berturut-turut kalah bermain kartu. Heran, seharusnya pria-pria berambut pendek itu tidak perlu kau dekati. Aku pernah menulis untukmu, hanya kau yang bisa menghargai, dengan senyum di malam saat hujan turun, kau memelukku. Kau katakan, “Alineamu semrawut, tapi aku merindukanmu.” Betulkah pada malam itu, dengan kaos biru dengan jins kau tidur telentang di kamarku?

Sampai pada suatu saat pria pucat menghunuskan belati dari balik mantelnya, ia mengancamku dan menuduhku telah menghancurkan kerajaannya. Dia memang telah gila! Sekalipun aku tidak pernah melihatnya mengenakan mahkota, selain pria kurus dengan pakaian kotor yang selalu mabuk, bahkan terlanjur tua karena memakai tongkat segala…,

Untuk kau ketahui, tidurku beralasan kardus dan harganya pun mahal. Satunya dijual seharga tujuh ribu rupiah. Aku menyesal, kenapa aku tidak jadi pemulung saja dari dulu tentulah kekayaanku akan menumpuk sebesar tumpukan sampah orang-orang kota ini.

Tahun ini aku harus menjalani hari-hariku di tengah setelan safari dengan pundak yang selalu berjalan di depan. Sama halnya saat kita berjalan sepanjang bantaran kali di tengah kota ketika seekor anjing kecil, kurus dan maaf, kurap itu tercebur ke dalam kali lalu kita tertawa terpingkal-pingkal. Aneh, kulihat matamu mengeluarkan air, sebetulnya kau tidak pernah ambil peduli kepada anjing itu, hanya saja adegan tersebut sedikit mengurangi risihmu terhadapku. Begitulah aku sekarang, tidak jauh beda!

Apakah kau masih main ketoprak dengan murid-muridmu, hei si nenek sihir? Kamu pasti telah bunting untuk kesekian kalinya, dan aku juga heran kenapa kalian tidak pernah lagi ke pantai untuk membangun boneka pasir yang kepalanya kalian tendang sekuat tenaga? Padahal di salah satu gubuk itu, di dinding yang menghadap ke goa karang, masih terpampang lukisan wajahmu. Dua pelacur itu tidak akan mampu menghapusnya, mereka menghormatiku meski saat kali pertama bertemu tidak ada penerangan kecuali api pada sumbunya yang putus harapan.

Aku masih ingin melanjutkannya, tapi ponsel ini membuatku bingung ditambah suara bising dari truk-truk pengangkut semen, oh, ya, kau pasti tahu aku sedang di mana. Di suatu tempat dimana bukit-bukitnya dihancur leburkan! Ah, itu hanya puisi tentang seorang pria yang hampir sepuluh tahun tidak bertemu kemudian tiba-tiba menelponku. Katanya, “Anakku sedah sebelas orang, istri dua, yang tua kakakmu itu, Alhamdulillah dalam keadaan sehat wal’afiat.”

Setelah telpon kumatikan, dalam hati kubertanya-tanya dan terkagum-kagum tentang seorang lelaki bertubuh kurus memiliki istri dua dan anak sebelas? Luar biasa!

Tentang puisi? Ya, tulisan ini cukup sebagai gambaran aku sedang mengalami gangguan tentang jati diri yang membuatku harus berusaha untuk mencintai diri sendiri. Puisi juga menggambarkan tentang pengalaman hidupku yang selalu dipermainkan oleh…, aku benci untuk menulis satu kata ini. Kalau kau ingin tahu, lihat saja di sinetron-sinetron atau simak lagi-lagu anak muda sekarang. Entahlah, tidak tahu kenapa aku sangat risih menuliskannya? Pokoknya, entahlah!

Seorang wanita pernah mau menabrakkan mobilnya ke sebuah trailer disebabkan oleh masalah yang satu ini. Wajahnya agak bulat, tidak kurus sepertimu yang memang jarang makan. Ia ingin menghabiskan waktunya bersamaku sambil menikmati teh. Untuk kau ketahui, tempat kami minum-minum itu adalah hamparan arena olah raga yang sangat mengagumkan. Ia marah padaku karena aku selalu berciloteh tentang semangat pemerintah dalam membangun sarana olah raga. Ketika ia mulai menatapku, aku katakan bahwa pemimpin kota ini sangat pintar cari uang. Aneh, ia malah menunduk, mengintipku dari balik cangkir tehnya. Perlahan suaranya terdengar samar di telingaku, “Apa kau merindukanku?”

Aku ingin katakan, saat itu nyaris tidak ada angin selain bunyi nafas dari hidungku sendiri. Rindu? Untuk apa merindukan orang sombong yang memaki-maki dari altar kemegahannya? Aku masih ingat ketika bapaknya yang gendut dan botak itu duduk di singgasananya pada suatu malam saat aku menjadi tamu yang menjijikkan baginya. Rumahnya luas dan besar, tapi bagiku terasa seperti di kuburan! Kau mungkin tidak percaya, bahwa itu alasanku untuk tidak pernah merindukannya. Ketika si gendut itu menyuruhku untuk bercermin lebih dulu sebelum datang ke rumahnya, aku bersumpah akan membakar rumah ini! Sepanjang malam tubuhku terasa panas, aku tidur di trotoar dekat pangkalan ojek yang juga merupakan teman-temanku itu, semua pada menertawakanku. Aku katakan pada mereka bahwa malam ini aku ingin terbang ke bulan!

Sama halnya ketika kita sama tertelentang di depan galeri di bawah pengaruh wiski dan mariuana yang kau katakana adalah air mata para dewa. Kau tidak mencoba merayuku hanya saja kau mengatakan, “Hei anak muda yang malang, lihat bule-bule itu. Mereka mala mini begitu hangat dalam dekapan masing-masing dan mengerang, apakah kau tidak menginginkannya?”

Aku tidak sadar saat meludah. Tidak satupun jawaban untuk pertanyaan di tengah kebuntuan itu. Hanya saja saat itu aku ingin terbang ke bulan. Sepanjang malam mimpiku menari-nari di tengah kehidupan ala- Rusia dan suara musiknya yang menyesakkan. Kau pun tertidur, tapi aku berjanji mengambil bensin dan korek api untuk menghanguskan sakit hatiku…, tapi aku tidak ingin dipenjara dan sejak itu aku tidak tahu kapan mulai untuk mengatakan , “tidak!” pada orang lain.

Kami masuk ke motel, di belakang jalan utama depan terminal. Ia hanya diam seribu bahasa. Kau tahu bagaimana perasaanku melihat seorang gadis di dalam kamar sempit menyembunyikan keinginannya? Sekarang aku tidak belajar anatomi, malah aku benci untuk membicarakan sesuatu pekerjaan yang disukai tapi justru akan membuat aku dimarahi ibuku? Seseorang akan merengek menyebut nama ibunya ketika seorang wanita menolak keinginannya, aku justru sebaliknya. Tidak satupun kurahasiakan, terutama kepada ibuku yang telah meninggal enam bulan lalu.

Pada penghujung tahun lalu aku tidak perlu minta maaf kepada siapapun. Ibuku dengan selendang kuning di kepalanya duduk di bawah pohon jambu di pinggir jalan menunggu iring-iringan penganten. Kau tahu bagaimana caranya menatap keindahan seorang gadis di sampingku? Ia tersenyum dan menyapa kepada orang-orang di sekitarnya, dan hatiku haru biru tidak menentu dari atas colt bak terbuka. Semua mengucapkan salam dan aku duduk di samping Drupadi dengan tubuhnya yang ramping terbungkus rajutan emas berkilauan.

Kau pasti memintaku untuk menulisnya, bagaimana caranya aku bertemu dengan seorang wanita anggun luhur budi itu? Baru saja aku mengecupnya lewat ponsel untuk mengucapkan selamat tidur. Sebetulnya aku juga mau tidur, tapi kalimat ini masih terus mengganggu. Telah lama aku mengimpikan jadi pangeran dengan seorang permaisuri baik hati dan dicintai semua orang, ternyata aku sangat beruntung, hingga entah berapa kali aku terkulai di atas kasur baruku yang empuk!

Setiap kali melintas di depan kantor pos ada saja halangan untuk mengirimkan ini kepadamu. Banyak sekali tulisan telah kubuat, sayang tidak satupun jadi terkirim. Di tempatmu tinggal itu pernah terjadi baku tembak, nah bisa jadi rasa takutku dihantam peluru nyasar benar-benar menghantuiku, apalagi kaosku yang kukenakkan saat ini bergambar Chee Guevaree, he…, he…, oleh karena itu aku memilih mencatatnya sendiri untuk diriku.

Wanita yang kuceritakan itu sekarang telah masuk awan. Ia tidak jadi bunuh diri, namun meski ia telah menikah, tujuh puluh persen hatinya beku. Aku bersumpah bahwa keangkuhan ayahnya sungguh telah melemparkannya ke jurang yang dalam. Walau begitu aku tetap berharap, meski berada dalam jurang terjal berbatu tajam ia masih hidup seperti kisah pendekar China pada masa Dinasti Ming dalam novel Koo Pinghoo. Sejak itu aku berhenti mencatat tentang dirinya.

Mataku mulai mengantuk, maaf, aku harus menghentikan tulisan ini, yang jelas mereka ternyata telah datang dan mentari segera akan bersinar. Aku tidak tahu kapan untuk bermain embun lagi bersamamu, karena semua telah membatu!

 

PADANG, 21 Maret 2012

 

—–

 

Posted in cerpen | Leave a comment

Pinang Dibelah Dua

 

Suasana latihan pada suatu malam di halaman sekolah dasar Jorong Koto Tuo, (Akhir mei.)

 

Seorang sedang duduk di atas sebuah kursi dengan sarung melingkar di leher dan kepalanya ditelengkan, ia terlihat sedang sedih. Kesunyian mencekam ketika ia hampir selesai melantunkan sebuah dendang Ratok Piaman Lamo, saat itu dari arah depan muncul seorang perempuan muda dengan gaya seenaknya datang menghampiri. “hei si tua, apa yang sedang kau lakukan? Lagu kuno, dendang memekakkan!” wanita mengenakan kostum menyolok dan rambut dicat kuning kemerahan dengan sinis mendorong bahu si tua sampai jatuh terjerambab dari tempat duduknya. Dengan susah payah si tua terus berusaha untuk menyelesaikan gurindam dan ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika si wanita menyepak kursi hingga terjungkal.

Sesaat si wanita tampak puas dengan aksinya dan secara bersamaan masuk pula gerombolan pemuda sambil berteriak-teriak. Kedatangan mereka diiringi irama remix dengan pakaian mencolok , para pemuda itu melonjak-lonjak seperti orang gila.  Mereka menari mengitari si tua dan  kursi yang hanya melongo seperti tunggul kayu. Teriakan dan tawa riuh rendah menyatu ditingkahi remix dengan tempo semakin lama semakin cepat dan tidak beraturan.

Dalam hiruk pikuk itu muncul seorang wanita mengenakan baju kurung, selendang putih di kepala dan kodek lusuh dan ia berkata tentang kegamangan status yang sedang ia saksikan dari sekelompok pemuda dan pemudi itu tentang masa sekarang yang melupakan kebaikan di masa lalu, perkaataan itu menjadi hantu dan mendadak gerak kelompok pemuda terhenti. Sampai di ujung kalimat, musik kembali memecah kesunyian. Ia adalah sosok ibunda, seorang bundo kanduang yang kesepian. Ia kembali mengucapkan deretan kalimat dan kehiruk-pikukan menjadi bisu sekejap. Ada warna yang terjungkal di atas tanah cokelat yang gersang dan di antara punki dan anting-anting yang saling beradu.

Kali ini ibunda berbicara dalam kebisuan. Setiap kali ia merintih dan meratap kearah warna-warna yang membungkus tubuh para pemuda. Rintihan itu berubah menjadi meteor ketika para pemuda menggerutu seperti lebah mencari sarang. Bisikan-bisikan, sinis dan berkesan membantah terhenti saat    satu tanda tanya terucap dari seorang perempuan, “o..waktu yang tak terencana, kelengangan ini tak semestinya… merenggut anak-anak dari tetekan ibu mereka sebelum waktunya!” ia berkata sambil melangkah mengambil jarak dari para pemuda lain. Ia adalah sosok perempuan yang berani mengkritik sebuah kesadaran yang tertimbun selama ratusan tahun. Sementara si ibu seakan asyik mendengar suara yang menyanyikan syair kerinduan.

Perlahan ketakutan menjadi pengajaran. Setiap deretan kalimat adalah deretan kata-kata bijak darisi ibu. “apa kalian, yakin?” Si ibu masih membisu menatap lurus ke tanah. menoleh ketika sekelompok pemuda minta diberikan sejarah. Sebelumnya si ibu telah menyaksikan krisis dan kekakuan di depan mata kepalanya sendiri dan ia baru saja menyaksikan saat seorang pria tua dilecehkan, saat gurindam dan pantunnya dihinakan. Sekarang mendadak ia diterpa keingin tahuan dan kejemuan yang menyesakkan dari diri para pemuda.

Pertunjukan dengan pendekatan teater moderen yang kontennya mempertemukan persoalan tradisi dan modernitas yang di lakoni oleh para pemuda pemudi jorong Koto Tuo, Kenagarian Koto Tuo, kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota itu sempat menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang di depan halaman sebuah Sekolah dasar di Jorong Koto Tuo. Ikhwanul Arif memang sengaja didatangkan dan ia telah disuguhi dengan menu budaya dalam mengangkat sebuah acara dalam rangka memperingati Koto Tuo Lautan Api di masa agresi Belanda 61 tahun yang lalu. Puisi memang tidak aneh di kabupaten Limapuluh Kota, tapi masih banyak di antara masyarakat, khususnya di Jorong Koto Tuo belum pernah menyaksikan langsung seorang membaca puisi.

“Hebat!” seorang penonton berkomentar. Seandainya keluguan itu disuguhkan di sebuah gedung teater dimana tepuk tangan menjadi barang haram, tentulah yang berkata ‘hebat’ itu akan menjadi pusat perhatian. kejujuran adalah kerja spontan, sebuah penilaian alami yang datang dari orang-orang yang biasanya hanya menghabiskan umur di warung untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan klasik. Sejak latihan kesenian digelar, hampir tiap malam lapisan masyarakat hadir untuk menyaksikan anak-anak dan orang tua mereka meekspresikan diri yang selama ini hanya bergelut dengan lumpur, pacul, sabit dan pupuk kandang.         pemuda dan orang tua. Suatu malam kata “Hebat,” kembali terucap dari mulut wakil Bupati Lima Puluhkota, Irfendi Arbi yang datang bersama rombongan. Selama kehadiran Wabup itu di halaman Sekolah Dasar, sejenak perhatian masyarakat beralih kepadanya. Begitu juga anggota randai yang duduk berjejer dengan tertib memperhatikan orang nomor dua di kabupaten itu sedang asyik mendengarkan puisi yang dibacakan oleh salah seorang dari  kelompok paduan suara orang tua yang berjudul Jaket Berlumur Darah, karangan Taufik Ismail. “Hebat!” sekali lagi terdengar kata itu yang kemudian diiringi gemuruh tepukan para penonton.

Dibatasi dengan seutas tali, Ikhwanul Arif terus melatih dua orang pemuda yang memerankan mamak dengan kemenakannya. Kebijaksanaan terus melompat dari mulut sang mamak memberikan sifat kepada kemenakannya dan mereka tampak asyik seakan tidak menghiraukan kehadiran bapak Wakil Bupati. Silang sangketa yang terjadi antara kemenakan membuat pemuda melompat dan berteriak ketakutan. Teriakan pemuda itu menyimbolkan bahwa masih ada sekelompok masyarakat yang mencintai perdamaian. Dalam hal ini Ikhwanul Arif telah menceritakan bagian ketiga drama itu sebagai sistim pendidikan ala tempo dulu. Sewaktu si ibu diganyang pertanyaan agar pemuda mengetahui jenis darah yang mengalir dalam dirinya, setelah mereka memperoleh sinar kebenaran, para pemuda itu pun berbaris dan bergantian menyuarakan langgam kebijaksanaan, “Kelok paku asam balimbiang, tampuruang lenggang lenggokkan, dan, sampai kepada supayo nagari jan binaso.”

Barisan pemuda itu mengakhirinya dengan salam, kemudian bubar menuju sudut halaman dan duduk dalam formasi dua baris. Seorang anak perempuan hitam manis berjalan di antara para pemuda dan berkata, “Padi manjadi, jaguang maupiah, taranak bapakambangan,” anak perempuan hitam manis itu berasal dari Aceh, secara perlahan logatnya mulai lentur. Ia mengatakannya sebanyak dua kali. Disitulah tersentuhnya para penonton meski kata ,”Hebat!” tidak terdengar lagi ketika puisi karya Mohammad Hatta menggambarkan keharmonisan dan kemakmuran masyarakat. “Subhanallah,” kata yang lengket di benak orang Islam adalah ungkapan polos di bait terakhir puisi itu. Sebagai seorang sutradara atau kareografernya, Ikhwanul Arif menampilkan semangat rakyat dalam menjalankan hidup mereka sehari-hari – mulai dari tarian, seni pencak silat, kata-kata bijak, menanam padi, menuai dan sampai bermain layang-layang, semuanya menyatu di bawah puisi Mohammad Hatta yang berjudul Beranta Indra itu.

Latihan telah dimulai sejak pertengahan bulan Mei 2010 dan suasana mendadak ramai, selain masyarakat yang datang menyaksikan para pedagang pun memperoleh masukan yang lumayan. Seorang masyarakat mengatakan, “Seandainya tidak ada listrik, tentulah suasana terasa seperti masa dahulu,”  Ia adalah seorang pe-randai yang masih menghafal bait-bait pantun dan gurindam setelah tenggelam selama hampir sepuluh tahun. sepanjang perjalanan pulang, sesi latihan masih menari dikepalanya sambil bertanya-tanya dalam hati, “Apakah mungkin mendendangkan ratok Piaman Panjang dengan menggunakan jins yang kedodoran?”, ia hanya tertegun, sementara malam bertambah larut juga. Lampu di halaman Sekolah dasar pun dimatikan, menunggu esok pagi menjelang ketika si penjaga sekolah dapat jatah tambahan kerja untuk membersihkan sampah plastik, daun sate, puntung rokok, ranting bunga yang dipatahkan dan berserak dimana-mana yang berkelap-kelip ditimpa cahaya bulan…

—-

 

 

Pemuda dan kaba di pentas 6 x 8 meter  sebuah pertunjukan teater karya Ikhwanul Arif (ini adalah judul sebuah essay yang pernah dikirim ke padang Ekspress pada tanggal 30 Juni 2010 tapi belum dimuat sampai sekarang.)

 

“Tradisi lama menjadi kegalauan dalam hiruk pikuk modernitas.” Itu lah kira-kira tema yang dituangkan Ikhwanul Arif pada pementasan teater di halaman sebuah sekolah dasar, jorong Koto Tuo, kecamatan Harau, kabupaten Lima Puluh Kota pada Sabtu malam tanggal 12 Juni 2010 yang lalu. Teater yang disutradarai oleh Ikhwanul Arif tersebut merupakan satu dari rangkaian acara dalam memperingati kekejaman penjajah Belanda pada masa agresi ke dua yang membumi hanguskan kampung itu pada tanggal 10 Juni 1949.

Di awal pertunjukan penonton dikejutkan oleh masuknya sekelompok pemuda ke atas pentas berukuran 6×8 meter sambil mencela pendendang tua yang tengah asyik bersijobang. Krisis selera terhadap seni tradisi ini dikondisikan oleh Ikhwanul Arif dengan menampilkan sosok ibunda yang cemas menyaksikan kenyataan hingga membuat naluri ke-ibuannya merintih getir dan berkata, “kepada siapa kami menghaturkan sambah?”

 

Sebelumnya tidak ada jawaban dari pertanyaan ibunda sampai timbul  kesadaran dari salah seorang pemuda yang segera menampik kebisingan dengan mengatakan bahwa  “kegembiraan ini tidak lagi manis.”  Ritme dalam irama selama ini hanya “mengetuk begitu bawel dan nyinyir,” yang menutup pikiran untuk memilih. Maka tidak ada cara lain selain segera mencari “muara,” kegelisahan yang menyebabkan mereka dibawa “sampai jauh menghulu dalam setiap denyut darah.” Sampai kebodohan  itu sendiri bergeser pada  cita-cita kondusif

Kenyataan itu telah terjadi di sehamparan negeri sepanjang “Bukit Barisan,” di pulau Sumatera ini yang hanya “ diam,” dan tidak mampu melakukan suatu perubahan sementara  musim silih berganti “bertabur duri,” yang panjang tiada henti. Selama itu kebijaksanaan hanya menjadi permain kata pada batas “Sampiran saja,” atau ibarat sebuah “lagu yang tidak sampai pada nyanyian.”

 

Secara detail ia mencerca perubahan sikap pada pementasan itu. “bahkan sampiran pun tidak sempat kita ucapkan,” seakan terjadi pembodohan sistimatis sepanjang masa meski pengetahuan tentang kebijaksanaan ibarat, “si bisu yang menceritakan mimpi-mimpinya.” , meski dikenal tapi tidak jelas arah tujuan. Pernyataan itu pun ditandai adanya perubahan sikap dan kemauan untuk berontak pada pola kebijaksanaan yang hanya, “menjadi hidangan utama setiap pejamuan adab, sedang hati menjadi kamus bisu.”

Bisa jadi kata “adab,” yang dimaksud adalah “adat,” menurut Ikhwanul Arif merupakan polesan kebijaksanaan di Minangkabau yang hanya sebagai “tuah,” di dalam perhelatan – pepatah petitih tanpa  sedikit pun penerapan. Kekosongan substansi sejarah memaksa para pemuda untuk mencari figur dari sosok seorang ibunda. “Kini aku merindu ibu dan negeri,” menyatakan bahwa naluri si anak terbuka untuk mencari perlindungan kepada sosok ibunya sebagai wadah matrialiner yang kekal dalam tatanan masyarakat di Minangkabau dan akan, “mengajari aku cara menangis,” dan “setidaknya berbagi air mata.”

 

Ibunda membawa lembaran album dengan muatan sejarah sebagai simbol bahwa  di dalam lembaran itu masih ada  “sesuatu,” sekaligus untuk menjawab tuntutan para pemuda tentang keterasingan. Ikhawanul Arif menggambarkan status kaba selama ini hanya sebagai  dongeng yang mengungkung dan hanya menjadi “kesedihan yang palsu.”  Bentuk tuntutan itu menjelma pada bentuk “buah sejarah yang ranum,” bukan bentuk buah sejarah cimpua atau setengah matang dan agar para pemuda sebagai generasi penerus, memahami tentang jenis “darah yang mengalir dari tubuh,” mereka yang “diganyang rindu dan tidak lagi mengenal jalan kepulangan.”

 

—–

Dalam adegan yang dimainkan para pemuda-pemudi jorong Koto Tuo itu, tersirat maksud Ibunda mengajukan pertanyaan kepada Penghulu dan Ninik-Mamak. Entah kepada siapa sambah akan dihaturkan? Seakan selama ini sejarah hanya terkurung sebagai “kaba dongeng, ” dalam rabab dan saluang semata. Artinya kaba tertuang sebagai untaian kata-kata bijak dalam “sampiran saja,” dimana Pemuda berusaha menggali “sampiran-sampiran,” itu untuk  membangkit batang terendam yang terkubur jauh di dasar tanah.

Album dalam pelukan ibunda akhirnya dibentangkan dan para pemuda mengeja, membentuk barisan dan berteriak, “Yooo,lah!” iya, lah. Begitu kira-kira artinya, sebuah pengakuan atau cemeeh? Yang jelas menjadi komando untuk segera menyusun barisan “pengkhianatan pada musim yang berkisar.” Para pemuda bergantian mengucapkan kata-kata bijak dari dalam album “kenangan,” itu. Dari dalam lipatan album terselip beberapa helai deta sebagai lambang “kepatuhan,” terhadap tatanan hidup dalam menegakkan kebenaran.

Dengan memakai deta di kepala pemuda mengambil alih menggurui dengan mengatakan, “adaik basandi mufakaik, mufakaik basandi alue jo patuik,..” yang merupakan aturan dalam mencari keputusan di dalam masyarakat Minangkabau tempo dulu. Setelah keputusan diperoleh maka pelaku yang akan menjalaninya tertuang dalam konsep, “kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka penghulu,…mufakaik barajo ka nan bana, nan bana badiri sendiri.” Secara tidak langsung mereka mengkhawatirkan eksistensi sang Penghulu saat ini yang terkesan tidak mempedulikan kemenakan yang seakan “terkurung,” dalam “penjara,” anak dan bini mereka.

Dalam barisan itu para pemuda sebagai “paga nagari,”  berganti-ganti menyuarakan kebenaran yang menganjurkan agar, “raso dibao naiak, pareso dibao turun,”. Di samping “menggurui,” para Penghulu dan Ninik-Mamak, para pemuda di Minangkabau harus memiliki empati kuat dalam kehidupan seperti di rantau, “dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang,” yang bertujuan untuk menjalin keharmonisan dengan orang lain karena akan menghadapi “lauik sati, rantau batuah.”

—–

Entah apa maksud Ikhwanul Arif memasukkan puisi Mohammad Hatta yang berjudul Beranta Indra? Bisa jadi ia melihat kemakmuran jika “kaba,” kembali diluruskan dalam ramuan kebijaksanaan. Dalam bagian ini, para pemuda duduk di sudut pentas. Musik mengalun mengiringi seorang anak yang berkata, “padi manjadi, jaguang maupiah, taranak bapakambangan.”

“Lihatlah Timur bintang berwarna,” adalah awal puisi tentang kemakmuran seiring terbitnya “fajar menyingsing, hari pun siang.” Dan para pemuda menampilkan aktifitas masyarakat sehari-hari dengan penuh suka cita seperti bermain pencak, bercocok tanam, menuai, menari dan main layang-layang, “”hati pun riang tiada terperi.” Adegan itu diakhiri dengan pernyataan tulus “subhanallah,” yang merupakan kejujuran di dada setiap orang beriman.

Setelah bermain di atas awang-awang, Ikhawanul Arif kembali membumi untuk sekedar menghibur orang kampung. Berawal dari pertikaian dua kemenakan ketika mendirikan rumah gadang yang terbuat dari lembaran koran di album. Saat seorang mamak “bodoh dan gampang dihasut.” tidak mampu menyelesaikan sangketa, malah mengeruhkan, muncul dua orang mamak yang bercakap dengan menggunakan bahasa Minangkabau dan mamak lainnya berbahasa Indonesia. Perpaduan antara puisi dengan kata-kata bijak menjadi warna tersendiri dalam pementasan malam itu.

Dalam penggarapannya selama satu bulan lebih kurang itu, Ikhwanul Arif merekam kejadian dua orang peronda yang menjadi korban Belanda dan ia menampilkan bagian “lenong,”-nya sehingga semua penonton terbahak-bahak. Seperti ketika adegan si peronda dicekik Belanda, ia berusaha membujuk dengan mengatakan bahwa Belanda adalah “gacik,” yang berarti Belanda ganteng. Walau merasa tersanjung, Belanda itu tetap membunuh si peronda dan menghancurkan rumah Gadang “Koran,” yang menebarkan kepiluan. Menjelang akhir, puisi Saini KM, Bendera, Darah dan Air Mata sempat menitikkan air mata kesadaran untuk mengenang, “ sepasang tangan di antara berjuta yang datang dan pergi.”***FAUZAHADI

Posted in opini | Leave a comment

Garis penyesalan dalam‘Lagu Siul’,‘SebuahKamar’ dan ‘Malam’ pada puisi Chairil Anwar

Adakah kematian menjadi arti atas ketidak berdayaan?

Bagi Chairil Anwar dalam bait pertama puisinya Lagu Siul merupakan pertanyaan yang mencerca kepedihan tentang kematian. Bertahan dalam kepasrahan bukan berarti menolak kenyataan.  Seperti “ Ajal di cerlang caya matamu,” adalah harapan terputus oleh kenyataan yang bernama takdir. Seperti laron yang mengharap terang, setelah tenggelam dalam gelap akhirnya terbakar dan mati oleh harapan sendiri. Di baris terakhir pada bait pertama Chairil seakan tidak peduli, sebuah keterpaksaan yang sederhana, “Ku kayak tidak tahu saja,” dan ternyata ia tidak mampu bersikap tidak peduli.

Ada tema bertendensi romantis pada bait kedua tentang keremajaan yang terbuai dan terbakar oleh dendam terhadap kekasih. “kau kawin, beranak dan berbahagia,” jelas bukan simbol terhadap perilaku yang menyimpang dari diri si penulis. Seperti pernah dikatakan teman dekat Chairil Anwar, Asrul Sani bahwa kebanyakan tema puisi-puisi Chairil bertemakan in-door – bermuara dari kegelisahan pribadi dan rumah tangga.

Layaknya manusia ditinggal kekasih, Chairil tidak menemukan jalan keluar karena tidak satu pun tempat mau menerima. Maka ia menganggap dirinya sebagai Ahasveros yang dikutukan Eros. Pengembalian kepada mitologi yang diyakini adalah akibat kepercayaan yang semu dan usaha untuk mempersonifikasikan dirinya – dalam hal ini Chairil kembali berada di jurang yang mencemaskan.

“Jadi baik kita padami Unggunan api ini,” adalah perlawanan terhadap muara kegelisahan, penyebab dari akhir perjalanan yaitu mati. Chairil mencoba memintasi kegamangan dan keraguan karena ia tidak mau menyesal  dengan mengatakan“Aku terpanggang tinggal rangka,” .

Lazimnya puisi-puisi Chairil yang lahir dalam suasana perang, maka setiap penyelesaian seolah-olah tidak lagi mengenal kata selain mati

Kebanyakan manusia ketika ditimpa derita justru menginginkan lebih agar penderitaan itu semakin menjadi. Kemiskinan adalah hal biasa,  seperti dikatakan Chairil Anwar dalam puisi Sebuah Kamar bahwa “sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia,” untuk dilihat dan diratapi. Ia justru tidak menemukan kepedulian selain tatapan , “bulan yang menyinar ke dalam,”. Tidak ada yang mau peduli meski Chairil meneriakkan tentang penghuni yang “bernyawa,” dan tentang dirinya yang berontak.

Apa yang dimaksud dengan ,”tersalib di batu,” dimana seorang terpaku tanpa daya dan sementara itu  bulan hanya bisa bersinar?  Sedikit terselip kesan akan harapan kepada orang lain yang tersalib meski dalam  ketidak berdayaan yang sama? Ada ruang ke-Tuhanan dari kata , ‘salib’ yang terpaku bisu dan tidak  mampu menolong. Dalam hal ini apakah Chairil sedang mencoba untuk menggugat Tuhan itu sendiri yang membiarkan kemiskinan di depan mata? Penderitaan yang sama juga menimpa sosok “ibuku tertidur dalam tersedu,” adalah naluri wanita yang rentan dan lemah. Lain halnya dengan si bapak yang  “terbaring jemu,”, oleh harapan yang terkikis, kandas dan membosankan.

Apakah hal sama juga terjadi di luar sana, di luar rumah yang dikatakan sebagai “keramaian penjara sepi selalu,”. Ia sendiri dengan ke empat saudaranya sesak dalam sempitnya kamar, “3×4 m,” sebuah ukuran di luar kelayakan.

Jelas terlihat in-door-nya puisi Chairil kali ini setelah menceritaka ratapan keluarganya sendiri dalam ketidak berdayaan. Bahkan ia menantang dengan mengatakan, “Aku minta adik lag pada ibu dan bapakku,”. Chairil kembali memotong garis penyesalan menjadi kesengsaraan berikutnya. Selain itu sedikit bimbang tentang eksistensi ibu dan bapaknya, “karena mereka berada di luar hitungan,”. Chairil seolah menafikan keberadaan ke dua orang tua itu dengan menonjolkan harapan hidup bagi kelima anak-anaknya

Dalam Malam Chairil kembali masuk ke dalam rasa takut yang menyesakkan. “Mulai kelam,”  saat kekacauan menjelma dalam warna temaram, dingin dan diam. Chairil tidak sendiri di tengah kebutaan yang buntu dan satu pertanyaan “Thermopylae?”  pertanyaan adalah persamaan tentang suatu pertempuran yang terjadi di Yunani tempo dulu. Akankah kejadian itu hadir dalam saat bersamaan ketika malam semakin menenggelamkan semangat? Chairil kembali kepada mati, memintas sebelum terjadi. Sama halnya dengan penggal garis penyesalan dalam puisi-puisi sebelumnya. Gambaran suasana perang sangat nyata dan mungkin ia menyaksikan korban-korban berjatuhan dan kebinasan yang musnah****.FAUZAHADI

 

Inkubatif>>>

 

 

Posted in opini | Leave a comment

Cik Nawi

Cik Nawi ini adalah seorang petani biasa. Suatu siang di hari Minggu ia mengatakan bahwa ia mendapat masalah dengan sanak istrinya. “Ada yang ganjil perangai sanak-sanak itu kiranya,” Begitu katanya di dalam lepau kopi. Kepala sama hitam, pikiran lain-lain. Orang tua berambut putih memasang wajah serius, sebut saja namanya Wan Ayam, ia berkata, “Sanak mana pula yang ganjil akalnya?”

Cik Nawi merasa dapat dukungan dan berkata, “tungganai di kampung itu, si perempuan tua itu terlebih, mulutnya runcing kata terdorong. Ia menyuruh kami pindah, katanya tanah tersebut telah membatu dalam genggamannya.” Continue reading

Posted in cerpen | Leave a comment

Gubuk Tengah Sawah

Gubuk mungil di tengah hamparan sawah, terbuat dari rangkaian bambu yang dicincang menjadi pelupuh, tegak nyaman, lengkap dengan pintu dan jendela. Sebuah sumur tersembunyi dari rimbun tanaman muda, tampat sebatang terong tumbuh di antara deretan  singkong, rimbang, pisang batu, kunyit, asam merah dan rumput liar yang menyesakkan.

Di belakangnya, di bawah pohon jambu,  tampak pagar bambu membatasi pemukiman puluhan ayam, di tonggaknya, bergayut pula lukah-lukah belut.

Prabu baru berumur 12 tahun,  sedang berusaha menguak pintu kandang, sementara  tangan satunya menjinjing ember. Ia menyerakkan pakan, campuran dedak dengan nasi basi itu kepada ayam-ayam, bibirnya tersenyum mengambang, memamerkan gigi kecil kehitaman seperti gigi bilalang. Tangannya mengusap pipi ketika seekor lalat hinggap di bawah matanya yang sipit, akibatnya, butiran dedak melumuri wajahnya. Continue reading

Posted in pena | Leave a comment